Andalan

Mengenal Lebih Dekat Sosok Jefri Taolin

Hemat saya, Jefri Taolin adalah sosok yang kritis dan murah hati. Sosok yang sudah menjalani karirnya sebagai wartawan selama dua puluh tahun ini, kini sedang mencalonkan dirinya sebagai calon DPRD Kabupetan Kupang, pada Partai Demokrat, Nomor Urut 03, untuk ikut bertarung dalam pemilu; Rabu 17 April nanti.

Sejak tahun 2012, saat diundang pertama kali membawakan materi dalam Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) Organisasi Ikatan Mahasiswa Kanokar Liurai (ITAKANRAI), sejak saat itu saya kenal sosok Jefri Taolin. Terlepas dari hubungan keluarga entah berdasarkan garis keturunan dari Bapa atau Mama, untuk saya, sosok Jefri Taolin adalah sosok yang menarik.

Saya yakin, ITAKANRAI maupun setiap anggotanya tidak melupakan siapa sosok Jefri Taolin terutama ketulusannya mendampingi perkembangan organisasi mahasiwa ini. Saya sendiri mengalami kebaikan hatinya bahkan rekan-rekan saya pun secara pribadi turut mengalami kebaikannya. Memang, yang namanya kebaikan, sulit untuk dilupakan.

Hingga kini kami masih terus bertemu entah di rumah maupun dalam acara-acara keluarga. Hemat saya, Jefri Taolin adalah sosok yang kritis dan murah hati. Sosok yang sudah menjalani karirnya sebagai wartawan selama dua puluh tahun ini, kini sedang mencalonkan dirinya sebagai calon DPRD Kabupetan Kupang, pada Partai Demokrat, Nomor Urut 03, untuk ikut bertarung dalam pemilu; Rabu 17 April nanti.

Sosok yang kini menjabat sebagai Koordinator Jurnalistik Online (KORWIL JOIN) BALI NUSRA ini, menurut hemat saya adalah model sosok yang cocok untuk kepemimpinan masa kini. Mantan wartawan (kontributor) Indosiar ini akan bertarung dalam Daerah Pilihan (Dapil) 1 Kabupaten Kupang, yang meliputi Kecamatan Taebenu, Kupang Tengah, Kupang Timur, Amabi Oefeto; Desa Penfui Timur, Tarus, Noelbaki, Matani, Kaniti, Tuapukan, Babau, Taklale, Oesao, Naibonat, Raknamo, Noekele, Tilong, Oebelo, Oelpuah, Baumata, Oeltua, Bokong, Sanenu, Oehani, Oeletsala, Baumata dan masih terdapat beberapa desa lainnya.

Memang, berbagai isu entah mengenai partai ataupun isu politik lainnya seringkali menjungkirbalikkan kondisi setiap pemilih untuk mudah banting stir, tetapi seorang pemilih yang baik, ia mesti menentukan pilihan yang tepat. Apapun yang terjadi, yang namanya pemilu, aktivitas dasar dan utamanya adalah memilih (pemimpin).  

Jefri Taolin adalah sosok yang memiliki pola pikir yang demokrat. Pola pikir demokrat ini terungkap melalui pernyataan-pernyataannya yang kritis, kredibel, entah dalam forum-forum diskusi, sambutan-sambutan maupun dalam pertemuan-pertemuan lainnya.

Saya menuliskan ini karena menurut hemat saya, sosok yang tangguh layak diperkenalkan untuk masyarakat.

Selamat berjuang…Tuhan memberkati……


Iklan

Presentasi Kitab Nabi Yehezkiel

Andalan

IMG_1189

  1. Arti Nama Yehezkiel

Yehezkiel dalam bahasa Ibrani berarti Allah menguatkan, Allah membuat kuat, yang dikuatkan oleh Allah (Yeh. 1:3, 3:22), berupa rumusan di sana kekuasaan Tuhan meliputi dia. Nama lengkap Yehezkiel adalah Yehezkel bin Busi.[1] Yehezkiel selalu disebut sebagai anak manusia (2:1, 3:1,4), sebutan anak manusia ini menitikberatkan kerendahan hati seorang Yehezkiel.[2]

  1. Penulis Kitab Yehezkiel

Kitab ini ditulis berdasarkan nama nabi besar dalam Perjanjian Lama yakni Yehezkiel.  Menurut para ahli Perjanjian Lama, mereka sepakat bahwa Kitab ini ditulis oleh Yehezkiel sendiri. Hampir setiap pasal  selalu dimulai dengan frasa Firman Tuhan kepadaku (2:1,3:1, 11:5) dan frasa aku melihat (1:4,10:1 ), aku mendengar (9:1),  Engkau anak manusia, ambillah sebuah batu bata, letakkan di hadapanmu dan ukirlah di atasnya sebuah kota, yaitu Yerusalem (4:1). Bukti lain menunjukkan bahwa Nabi Yehezkiel secara langsung bercerita dengan tegas apa yang dia lakukan dan ia kerjakan. Seringkali ia dengan tegas menyatakan kapan dan dimana terjadi nubuat tersebut. Ada banyak tanggal yang dicatat, menyusul aktivitas sehingga terkesan semacam “catatan harian” (Yeh. 1:1,2; 3:16; 8:1; 20:1; 26:1; 29:1; 29:17; 30:20; 31:1; 32:1,17; 33:21; 40:1).[3]

Menurut para ahli, bahasa Ibrani yang digunakan Yehezkiel sangat dipengaruhi bahasa Babel. Ciri-ciri tersebut menunjuk kepada ciri kenabian lama yaitu kekuatan mimpi, ekstase dan penglihatan-penglihatan gaib.[4] Kitab ini juga beberapa kali menyinggung peristiwa yang terjadi pada masa itu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, tidak mungkin seseorang di luar Babel dapat menulis seperti ini.[5]

Selain sebagai nabi, Yehezkiel adalah seorang imam yang berasal dari keluarga imam di Yerusalem, mungkin dari kaum Zadok. Zadok adalah seorang imam pada zaman raja Daud Zadok merupakan anak dari Ahitub, keturunan Eleazar. Ia adalah imam di istana Daud bersama dengan Abyatar. Zadok berarti saleh, berbudi, budiman.

  1. Isi Pokok Kitab Yehezkiel

Kisah Kitab Yehezkiel ditulis dengan memakai kata ganti orang pertama, “aku”. Nubuat dan penglihatan dipaparkan dari sudut pandang Nabi Yehezkiel sendiri tentang Bait Suci yang baru, penglihatan tentang kemuliaan Allah yang seolah-olah begitu nyata. Perspektif aku ini selalu dimengerti dalam terang Yeh. 1:3 yakni Allahlah yang menguatkan atau kekuasaan Tuhanlah yang meliputi Yehezkiel.

  1. Nabi Yehezkiel

Yehezkiel diperkirakan mulai berkarya sebagai nabi pada akhir Juni atau awal juli 593 Seb. M. Dalam tahun menjelang Kerajaan Yehuda terperangkap dalam persaingan kekuasaan antara Mesir dan Babel, Babel akhirnya berhasil menduduki Yehuda dan mengambil alih Yerusalem pada tahun 597. Dalam tahun ini juga, Yehezkiel juga agaknya menjalankan tugasnya sebagai seorang imam di Bait Suci Yerusalem. Setelah Babel berhasil menduduki Yehuda dan mengambil alih Yerusalem, beberapa pemimpin Yehuda, termasuk Raja Yoyakhin dan Nabi Yehezkiel sendiri, ditawan dan dibuang ke Babel. Pada saat ini juga, Nebukadnezar mengangkat Zedekia (paman Raja Yoyakhin) untuk menjadi Raja Yehuda. Ini berarti masih tertinggal orang Yehuda lainnya di Yerusalem.

  1. Dalam Masa Pembuangan di Babel

Sepuluh tahun setelah berada dalam masa pembuangan (Yoyakhin, Yehezkiel dan kaum buangan lainnya), Yehuda di bawah pimpinan Raja Zedekia (yang belum mengalami pembuangan) memberontak terhadap Babel. Lalu Raja Babel yakni Nebukadnezar, untuk yang kedua kalinya mengirim tentaranya untuk menghentikan pemberontakan itu dan sekaligus menghancurkan Yerusalem beserta dengan bait sucinya pada tahun 587-586 seb.M.

  1. Nubuat Yehezkiel

Sebagian besar nubuat Yehezkiel disampaikan dalam kurun waktu antara 593 dan 586 seb. M. Ini berarti nubuat ini berlangsung dalam situasi pembuangan. Dalam situasi pembuangan ini, nubuat Yehezkiel tentang Bait Suci yang baru dan kemuliaan Allah mendapat tantangan yang besar. Walaupun demikian, nubuat-nubuat memperlihatkan bahwa situasi pembuangan, melapetaka dan penghancuran bait Allah merupakan akibat dari dosa-dosa orang-orang Yehuda. Mereka telah beribadah kepada ilah-ilah lain. Mereka lebih suka dengan Raja asing daripada mengharapkan pertolongan Allah. Dosa dan kekebalan hati mereka telah menajiskan Yerusalam dan Bait Allah. Karena itu, penghancuran Bait Allah pertanda Kemuliaan Allah telah meninggalkan Yerusalem akibat dosa-dosa mereka. Terhadap dosa-dosa ini, Yehezkiel menubuatkan dengan peringatan bahwa penghukuman akan segera datang. Karena itu, nubuat Yehezkiel juga berisi tuntutan pertobatan Yerusalem.

Nubuat Yehezkiel tidak berhenti pada penghakiman dan penghukuman. Yehezkiel terus membangkitkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Tuhan berjanji akan membebaskan mereka dari pembuangan dan menuntun kembali mereka ke Yerusalem, dan mereka akan beribadah lagi di Bait Suci yang baru. Di sana kemuliaan Tuhan akan kembali bersinar dan bangsa Israel  akan mengakui bahwa tidak ada ilah lain selain Tuhan, Allah Israel.

  1. Susunan Kitab Nabi Yehezkiel

Ada lima bagian yakni

  • Bab 1:1-3:21 : Panggilan Yehezkiel sebagai nabi
  • Bab 3:22-24:27 : Nubuat penghukuman atau pengadilan Yehuda dan Yerusalem berupa malapetaka dan Kemuliaan Tuhan meninggalkan mereka
  • Bab 25:1-32:32 : Nubuat penghukuman terhadap bangsa-bangsa (asing)
  • Bab 33:1-39:29 : Pemulihan Yerusalem dan Israel oleh Tuhan
  • Bab 40:1-48:35 : Kemuliaan Tuhan kembali ke Yehuda dan Yerusalem sehingga mereka disebut Yerusalem baru.

Sumber; Buku

 Buku Alkitab Edisi Studi

Buku Seluk-Beluk Kitab Suci karya Darmawijaya, Pr.

Buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, karya Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (eds.)

Kamus Alkitab karya W.R.F. Browning

Buku Perkenalan Singkat Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karya Stefan Leks

Internet :

https://id.wikipedia.org/wiki/Yehezkiel,

https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Yehezkiel

https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Yehezkiel#Penulis

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Yehezkiel, bdk., https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Yehezkiel

[2] J. Blommendaal. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1993. 1992. Hal.122-123

[3] C. Groenen. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta : Kanisius. 1992. Hal.269, 273.

[4] Darmawijaya. Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya. Yogyakarta: Kanisus. 1990. Hal.23-24, 28-29.

[5] R. Wahyosudibyo. Kitab Nabi-Nabi I. Flores: Nusa Indah. 1966. Hal.395.

Kamipun Turut Merasakan Bahagia Itu

10427225_1403114160000663_5700554232733916559_n

Menarik kalau mengurai kisah tentang siapa itu Marianus Kung, Putera Flores Timur-Larantuka-Lamika-Lamuda City. Setahun yang lalu, saya berlibur ke Lamuda. Di sana saya menyimak, ada semangat kerja keras yang luar biasa.

Semangat itu, ada dalam diri Kaka, Nyadu rasa saudara Marinus Kung. Karena itu, di Hari Ulang Tahunnya ini, saya ingin menenun kisah-kisah melalui perpadatan kata yang sarat makna.

Selamat Ulang Tahun Om Nus, Selamat Ulang Tahun Suaminya Kaka tercinta Maria Wendelyna L. Neno, Selamat Ulang Tahun, Bapaknya Amel dan Verena. Panjang umur, sehat selalu, Tuhan memberkati.

Inilah doa-doaku; Jadilah suami yang baik untuk Kaka Wendy, jadilah Bapak yang baik untuk Ponaan Amel dan Verena, jadilah kaka yang baik untuk kami; adik-adik.

Tekunilah profesimu, saya yakin, Tuhan memberkati profesimu. Kami pun tak dapat menyangkal bahwa kami telah turut merasakan uluran tanganmu dalam hidup dan karya kami.

Tentunya di hari bahagiamu ini, muncul suatu tuntutan etis untuk memaafkan kami kalau ada pola pikir, kata dan laku yang tidak berkenan.

Kami dari Kupang-Penfui, menitipkan salam rindu dan salam hangat untuk kaka berdua dan terutama dua cilik tercinta; Amel dan Verena.

Saya (Fr. Yudel), Yantus, Ermy, Aldo, Tus dan ponaan lainnya; Alda, Dimas, Usta, Leri, Jelo, Ave, Ilsa, Ifka, Jen, Ama, Jun, Ina, Kesyha, Helena, Richard, mengharapkan yang terbaik untuk Om Nus, Kaka Wendy, Amel dan Verena.

Dipersembahkan oleh Fr. Yudel Neno pada 16/02/2019, tepatnya pada Hari Ulang Tahun Kaka Marianus Kung

Ingin Prestasi Baru

IMG_7321

oleh Keisya Djen

Hari berganti hari hingga tahun pun demikian

para cilik hingga opa-oma bergembira

seusai lahir Sang Juru Selamat

tahun pun lahir yang baru yakni 2019

Langkah-langkah makin erat bersama rekan-rekan cilikku

ayah-ibu makin semangat dalam tugas

telah lahir Sang Juru Selamat

dan saya pun ingin semangat belajar yang baru

Telah kutulis dalam agenda baruku

akan kuraih prestasi buat senyum ayah dan ibu

irama musik natal telah turut memacu rasa gembiraku

warna-warni petasan tahun baru telah memacu daya juangku

Semangat akan kutabur

prestasi akan kutuai

hingga titik darah penghabisan

Penulis : Laura Vicuna Keisya Djen, Siswi kelas 5 A SDI Tenau

Imam Sebagai Ada Persona dan Ada Komunal Dalam Pelayanan

IMG_4993

Fr. Yudel Neno

Pendahuluan

 Menarik ketika merenungkan tentang being personal dan being communal. Being personal berarti ada sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Being communal berarti ada sebagai pribadi yang bersama-sama dengan pribadi lainnya. Dari kedua frasa ini, muncul suatu arti integral bahwa ada berarti ada bersama dengan yang lain; ada berarti mengandaikan yang lain dan ada berarti ada untuk yang lain.

Dalam konteks ada entah ada personal maupun ada komunal, sosok seorang imam, perannya direfleksikan sebagai tugas yang menjembatani personalitas manusia dan komunal manusia. Seorang imam ketika ditahbiskan, ia ditahbiskan sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri. Ia bukan ditahbiskan menurut pribadi seorang uskup atau seorang lainnya.  Dan karena rahmat tahbisan berciri khas pelayanan, maka seorang imam sama sekali tidak diperkenankan untuk mengbaikan peran komunalnya, karena ciri khas pelayanan dan pewartaan Sabda selalu berciri komunal atau persekutuan. Atas peran komunal pun seorang imam dengan menghayati dan menghidupi Pribadi Kristus dalam dirinya, ia tidak boleh terlebur begitu saja dalam kebiasaan komunal.

Dalam arti ini, entah ada sebagai pribadi maupun ada sebagai komunal, keduanya tidak saling mendiskreditkan melainkan saling mengakomodir demi karya pelayanan yang lebih efektif dan efisien.

Merefleksikan tentang ada personal dan ada komunal ini, saya membeberkannya dalam beberapa poin di bahwa ini

 

Imam sebagai Ada Personal

Persona diartikan sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Berdiri sendiri yang dimaksudkan adalah memiliki rasionalitas, kehendak bebas dan perasaan sendiri sebagaimana dikaruniakan kepadanya oleh Sang Pencipta sendiri.[1] Dengan kekuatan yang dikaruniakan ini, seorang imam berdiri sebagai pribadi untuk menentukan sendiri keterlibatannya dalam hidup sosial terutama demi pelayananya kepada umat Allah. Walaupun demikian, digarisbawahi bahwa akal budi, kehendak bebasa dan perasaan justru dikarunikan oleh Sang Pencipta, maka penggunaannya pun tidak dapat menyangkal peranan Sang Pencipta serta Kristus sendiri apalagi menggunakan status persona untuk untuk menyangkal peranan Allah. Imam sebagai ada persona justru terlaksana dalam wibawa Kristus sendiri dalam persekutuannya dengan uskupnya untuk memberikan pengajaran yang ontektik tentang Kristus dan atas nama Kristus sendiri.[2]

 

Imam sebagai Ada Komunal

Bertolak dari imam sebagai ada persona, muncul pula arti imam sebagai ada komunal. Seorang imam adalah figur publik. Ciri khas publik ini sebenarnya telah ditandaskan terutama saat menerima Sakramen Tahbisan bahwa ia ditahbiskan untuk melayani umat Alllah.

Pelayanan terhadap umat Allah ini, dimensi komunalnya makin nampak justru karena ia bertindak sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan dalam terang semangat Kristus sendiri. Hanya dengan dan dalam semangat Kristus sendiri misi seorang imam dapat berjumpa dengan persekutuan para umat beriman. Di sini, misi seorang imam sebagai pribadi yang ditahbiskan sangat berarti karena ia membaktikan dirinya demi pelayanan terhadap umat Allah.[3]

 

Tritugas Imam menjembatani Ada Personal dan Ada Komunal

Tugas seorang imam entah sebagai pribadi yang berdiri sendiri maupun sebagai pribadi yang ada untuk sesama, menjadi berarti ketika dibingkai dalam tritugas imam. Tritugas imam itu adalah Imam, Nabi dan Raja. Menjadi Imam untuk menguduskan, menjadi Nabi untuk mewartakan dan menjadi Raja untuk menggembalakan. Tugas menguduskan dalam arti paling tegas adalah melalui perayaan Ekaristi. Tugas perayaan Ekaristi adalah tugas yang mengabdi pada persekutuan. Tugas mewartakan adalah tugas yang membutuhkan ruang publik dalam hal ini umat Allah dalam segala bidang kehidupannya, demi karya Kabar Gembira. Tugas menggembalakan adalah tugas pribadi yang terpanggil secara personal untuk menggembalakan umatnya dalam terang semangat kegembalaan Kristus sendiri.[4]

Dari tritugas ini muncul konsep tentang menjembatani. Apa maksudnya? Dengan menghayati, menekuni dan melaksanakan tritugas ini, pribadi seorang imam disatukan dengan Kristus sendiri, dan pelayanannya pun merupakan suatu pelayanan yang utuh demi keselamatan umat Allah. Di sini, tritugas ini tidak hanya mengamankan seorang imam dalam dirinya sendiri dan dalam keterlibatan sosialnya sendiri melainkan memandang sesama manusia dalam hal ini umat Allah sebagai mitra kerja. Dalam konteks mitra kerja ini, seorang imam dan umat Allah adalah subyek-subyek yang bekerja menurut status dan kemampuan mereka sendiri untuk membawa masuk kabar gembira di tengah dunia modern yang serba egois.[5]

 

Ada personal adalah subyek-subyek yang membentuk ada komunal

Persona berarti subyek yang berdiri sendiri. Sebutan subyek ini menuju pada apa yang dinamakan dengan individu. Entah apapun diistilahnya yang hendak dikenakan kepada pribadi atau individu, perlu dipahami bahwa dalam diri seorang individu, ada ciri personal dan ada ciri komunal. Dalam menjalankan ciri personal, seorang imam adalah makhluk individual. Dalam menjalankan ciri komunalnya, seorang imam adalah makhluk sosial.

Sebagai makhluk individu, seorang imam tidak dapat menyangkal tugas-tugas sosialnya khususnya terkait dengan tritugasnya. Sebagai makhluk sosial, seorang imam tidak boleh mengbaikan begitu saja tugas-tugasnya sebagai makhluk sosial, karena mengabaikan keterlibatan sosial sama halnya dengan mengingkari status sosial  yang melekat dalam diri sendiri. Inilah yang sebenarnya disebut Driyarkara dengan istilah manusia adalah aku yang berkarkter integral. Disebut berkarakter integral karena dalam pribadi manusia ada suatu persekutuan antara aku sebagai jiwa dan aku sebagai badan.

Dari dimensi persekutuan manusiawi ini, ditarik suatu kebenaran lanjutan bahwa ada komunal merupakan ada subyek-subyek yang membentuk komunal. Disebut demikian karena dalam ada komunal, individu seorang manusia dalam hal ini seorang imam sama sekali tidak boleh dileburkan atau menjadi hancur dalam komunal.

 

Penutup

Akhinya, imam sebagai ada persona dan ada komunal dalam pelayanan berarti seorang imam adalah seorang pribadi yang  membaktikan seluruhnya pribadinya demi pelayanan akan umat Allah. Seorang imam, bersama uskupnya, mereka adalah pribadi yang beridi sendiri-sendiri tetapi bertindak dalam nama Kristus dan atas nama Kristus sendiri untuk mewartakan kabar gembira di tengah himpitan zaman modern yang serba perhitungan dan serba egois ini. Karena itu, menjadi imam berarti menjadi pribadi yang utuh entah secara personal maupun dalam keterlibatan sosialnya.

 

Sumber Bacaan :

Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, Dekrit Tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam,  (7 Desembrer 1965), dalam R. Hardawirjana (penerj.), Dokumen Konsili Vatikan II (Jakarta: Obor, 1993) , art., 4.

Katekismus Gereja Katolik, artikel 888.

Simon Blackburn, Kamus Filsafat, (Yogyakart : Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 651.

Mgr. A.M., Sutrisnaatmaka, MSF, Kepemimpinan Dalam Gereja dan Masalahnya, (Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusautama, 2012), hlm. 31-32.

Dr. Edison R.L. Tinambunan, O.Carm, Spiritualitas Imamat, Sebuah Pendasaran, (Malang : Dioma, 2004), hlm. 2-4.

Boumans, Josef, Telaah Sosio-Pastoral Tentang Manusia, Jakarta :

Celesty Hieroni, 2001

Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudius et Spes, Konstitusi Pastoral tentang Gereja Dunia Dewasa ini, 1965

Driyarkara, Nicolaus, Filsafat Manusia, Yogyakarta : Kanisius, 1969.

Huijbers, Theo, Manusia Merenungkan Makna Hidupnya, Yogyakarta :

Kanisius, 1986

Klau, Fauk Nelson, Pendidikan INTEGRAL : Pendidikan Yang Memahami Manusia, Kupang : PT. Grafika Timor Idaman, 2006.

Leahy Louis, Horizon Manusia, Dari Pengetahuan ke Kebijaksanaan, Yogyakarta : Kanisius, 2002.

Magnis Suseno, Franz, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta : Kanisius, 1992

Snijders, Adelbert, Manusia dan Kebenaran, Yogyakarta : Kanisius, 2006

______________, Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan,

Yogyakarta : Kanisius, 2004

[1] Simon Blackburn, Kamus Filsafat, (Yogyakart : Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 651.

[2] Katekismus Gereja Katolik, artikel 888.

[3] Mgr. A.M., Sutrisnaatmaka, MSF, Kepemimpinan Dalam Gereja dan Masalahnya, (Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusautama, 2012), hlm. 31-32.

[4] [4] Dr. Edison R.L. Tinambunan, O.Carm, Spiritualitas Imamat, Sebuah Pendasaran, (Malang : Dioma, 2004), hlm. 2-4.

[5] Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, Dekrit Tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam,  (7 Desembrer 1965), dalam R. Hardawirjana (penerj.), Dokumen Konsili Vatikan II (Jakarta: Obor, 1993) , art., 4.

 

Imamat Itu Sakramen Tetapi Menjadi Imam Itu Pilihan

IMG_4988

Fr. Yudel Neno

  1. Pendahuluan

 Menjadi imam itu pilihan tetapi Allah tidak salah memilih orang untuk menjadi imam. Berbagai problem personal dan pastoral dari seorang imam, seringkali dijadikan sebagai alasan untuk meragukan karya Rahmat Allah yang telah diterima melalui Sakramen Imamat atau Sakramen Tahbisan. Terjadi juga bahwa alasan ‘imam juga manusia’ seringkali dipakai untuk ‘membenarkan begitu saja’ kekeliruan dalam hidup dan pelayanan pastoral. Sakramen Imamat bukanlah suatu alasan otomatis dengan corak paksaan dalam pilihan untuk menjadi imam. Dikatakan sebagai Sakramen justru karena kehadirannya tidak memaksa manusia untuk memilih. Di sini, berlaku juga prinsip sakramental dalam setiap pilihan bahwa seseorang dalam memilih untuk menjadi imam, yang kelak menerima tahbisan imamat, ia tidak boleh karena terpaksa atau hanya untuk memenuhi keinginan atau kehendak pihak tertentu, karena rahmat keselamatan yang diperoleh dan karya keselamatan yang akan diwartakan, bukanlah suatu paksaan. Dengan bebas memilih dalam perjumpaannya dengan perkenanan Allah sendiri, sesungguhnya seorang imam adalah pelaksana karya keselamatan Allah di dunia.

Menyikapi berbagai pergumulan konseptual di atas, saya terkesima untuk merefleksikan tentang Imamat sebagai Sakramen dan pilihan menjadi imam.

 

  1. Imamat Itu Suatu Paksaan?

 Seringkali terjadi bahwa pilihan untuk menjadi imam karena untuk memenuhi kehendak orang tua. Pernyataan ini memang membutuhkan suatu penelusuran yang mendalam tetapi sebagai suatu bahan refleksi, kiranya jelas bahwa jabatan imam yang diperoleh melalui tahbisan merupakan jataban pelayanan sebagai buah dari hasil perjumpaan antara kehendak Allah dalam memilih dan kehendak bebas manusia untuk memilih dan dipilih.

Imamat merupakan suatu Sakramen yang menghadirkan karya keselamatan Allah melalui pelayanan Sakramen, pewartaan Sabda dan tugas kegembalaan. Panggilan terhadap keluruhan ini, tidaklah tepat jika terpaksa. Siapapun dia, dalam tugas apapun ia perlu bergembira dengan pilihannya. Kegembiraan dalam pililhan ini bukanlah suatu kegembiraan psikologis semata melainkan suatu kegembiraan bahwa Allah justru berkarya melalui kehendak bebas kita untuk menjatuhkan pilihan, menjadi pengikutNya tanpa paksaan dari siapapun, termasuk Allah sendiri.

 

  1. Imamat Itu Suatu Popularitas?

Di tengah perhelatan zaman khususnya melalui media sosial yang gencarnya mempromosikan popularitas diri, hidup imamat justru mendapat suatu tantangan yang serius. Gaya hidup popularitas memang tak dapat disangkal tetapi tidak semua pola hidup hidup terutama pola hidup religius mesti menjadikan popularitas diri sebagai suatu gaya hidup. Terutama dalam tugas imamat, patut dicatat bahwa hanya Kristuslah yang mesti ‘dipopulerkan’ atau model hidup kita untuk menjadi popular.

 

  1. Imamat Itu Suatu Alasan Ekonomis?

Tidak ada alasan lain untuk hidup imamat selain pembaktian hidup untuk pelayanan dalam terang semangat Kristus sendiri. Memang, hidup ini tidak terhindarkan dari kebutuhan ekonomis. Uang memang perlu tetapi diperlukan sejauh untuk melancarkan pelayanan Sakramen dan Pewartaan Sabda.

 

  1. Imamat Itu Suatu Kehormatan Sosial?

Melalui Sakramen Imamat, seorang imam resmi masuk dalam jabatan hirarki Gereja. Jabatan ini sesunguhnya bukanlah suatu jabatan belaka semisal jabatan gubernur atau bupati. Jabatan imamat adalah jabatan pelayanan karena mengikuti keteladanan kegembalaan Yesus sendiri sambil menghayati pernyataaNya sendiri “Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani”. Memang tidak dapat dihindari bahwa jabatan imamat mendatangkan suatu kehormatan sosial tetapi seorang imam, ia tidak boleh lupa bahwa ia dihargai justru karena jabatan imamatnya yang bermuara pada pelayanan bukan pada jabatan semata.

 

  1. Imamat untuk Menghindari Biaya Pendidikan yang sangat Mahal?

Seringkali kita dengar bahwa masuk Seminari itu biayanya murah. Sebesar apapun biayanya tidak sebanding dengan pendidikan dan pembinaan yang diperoleh. Anggapan seperti ini, ada saja tetapi perlu digarisbawahi bahwa Imamat bukanlah suatu jalan lain dari jalan yang gagal atau jalan yang tidak dikehendaki.

 

  1. Imamat adalah Jabatan Pelayanan

Pilihan menjadi imam merupakan pilihan di dunia yang bersumber langsung dari keterarahan kodrat manusia untuk menjadi rekan kerja yang dipakai Allah untuk mengatur dunia pada umumnya (makrokosmos) dan manusia pada khususnya (mikrokosmos). Di sini, jabatan imamat justru bersesuaian dengan keterarahan kodrati manusia, di mana setiap manusia terpanggil untuk melayani sesamanya. Panggilan terhadap pelayanan ini mesti berdimensi lebih khusus karena rahmat yang telah diperoleh melalui Sakramen Tahbisan.

 

  1. Menjadi Imam itu Pilihan

 Pada akhirnya, menjadi imam itu memang pilihan tetapi rahmat yang diperoleh dari Sakramen Tahbisan datang dari Allah sendiri. Rahmat yang datang dari Allah sendiri ini sama sekali tidak memaksa manusia untuk memilih jalan yang khusus ini. Rahmat ini pun sama sekali tidak mengubah kodrat kemanusiaan beserta dengan segala kecenderugan manusiawinya. Rahmat dari Allah justru lebih hadir sebagai kekuatan atau pencerahan yang bebas dalam perjumpaannya dengan kehendak bebas manusia.

Pilihan yang bebas ini karena datang dari kehendak bebas manusia atau mereka yang telah memilih jalan hidup khusus, makanya jalan hidup yang lain bukannya dilihat sebagai gangguan atau halangan bagi pilihan hidup khusus melainkan sebagai mitra kerja untuk mewartakan Kabar Gembira dalam status dan profesi yang berbeda-beda.

 

  1. Piilihan menjadi Imam berkanjang dalam Teladan Kegembalaan Kristus sendiri

Yesus Kristus adalah Imam Agung walaupun secara biblis, Ia sendiri tidak pernah menyebutkan diriNya sebagai Imam. Pilihan yang berkanjang dalam teladan kegembalaan Kristus berarti seorang calon imam maupun imam, ia mesti tahu dan hayati bahwa tugasnya adalah menjadi Imam untuk menguduskan, menjadi nabi untuk mewartakan dan menjadi raja untuk menggembalakan. Tritugas Kristus ini menempatkan seorang imam kelak sebagai sosok atau figur yang harus menyentil segala bidang kehidupan manusia dengan kekuatan Sabda dan teladan kegembalaan Kristus sendiri.

 

  1. Penutup

Atas refleksi saya ini, dengan matang saya memutuskan untuk menjadi imam tanpa paksaan dari siapapun dan apapun, dan bukan juga karena berbagai alasan yang telah dikemukan sebelumnya. Hemat saya, pilihan menjadi Imam adalah sebuah jalan terbuka sarat rahmat hingga kelak menjadi Imam Tuhan. Karena itu boleh dikatakan bahwa memilih untuk menjadi imam karena adanya suatu paksaan atau karena berbagai alasan sebelumnya, pilihan seperti ini menyalahi kodrat imamat itu sendiri.

Menjadi imam itu pilihan tetapi Imamat adalah Sakramen yang datang dari Allah sendiri. Dan karena rahmat itu datang dari Allah sendiri maka dibutuhkan kemurnian pikiran, hati, kehendak dan perasaan untuk menyelaminya.