Presentasi Kitab Nabi Yehezkiel

Andalan

IMG_1189

  1. Arti Nama Yehezkiel

Yehezkiel dalam bahasa Ibrani berarti Allah menguatkan, Allah membuat kuat, yang dikuatkan oleh Allah (Yeh. 1:3, 3:22), berupa rumusan di sana kekuasaan Tuhan meliputi dia. Nama lengkap Yehezkiel adalah Yehezkel bin Busi.[1] Yehezkiel selalu disebut sebagai anak manusia (2:1, 3:1,4), sebutan anak manusia ini menitikberatkan kerendahan hati seorang Yehezkiel.[2]

  1. Penulis Kitab Yehezkiel

Kitab ini ditulis berdasarkan nama nabi besar dalam Perjanjian Lama yakni Yehezkiel.  Menurut para ahli Perjanjian Lama, mereka sepakat bahwa Kitab ini ditulis oleh Yehezkiel sendiri. Hampir setiap pasal  selalu dimulai dengan frasa Firman Tuhan kepadaku (2:1,3:1, 11:5) dan frasa aku melihat (1:4,10:1 ), aku mendengar (9:1),  Engkau anak manusia, ambillah sebuah batu bata, letakkan di hadapanmu dan ukirlah di atasnya sebuah kota, yaitu Yerusalem (4:1). Bukti lain menunjukkan bahwa Nabi Yehezkiel secara langsung bercerita dengan tegas apa yang dia lakukan dan ia kerjakan. Seringkali ia dengan tegas menyatakan kapan dan dimana terjadi nubuat tersebut. Ada banyak tanggal yang dicatat, menyusul aktivitas sehingga terkesan semacam “catatan harian” (Yeh. 1:1,2; 3:16; 8:1; 20:1; 26:1; 29:1; 29:17; 30:20; 31:1; 32:1,17; 33:21; 40:1).[3]

Menurut para ahli, bahasa Ibrani yang digunakan Yehezkiel sangat dipengaruhi bahasa Babel. Ciri-ciri tersebut menunjuk kepada ciri kenabian lama yaitu kekuatan mimpi, ekstase dan penglihatan-penglihatan gaib.[4] Kitab ini juga beberapa kali menyinggung peristiwa yang terjadi pada masa itu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, tidak mungkin seseorang di luar Babel dapat menulis seperti ini.[5]

Selain sebagai nabi, Yehezkiel adalah seorang imam yang berasal dari keluarga imam di Yerusalem, mungkin dari kaum Zadok. Zadok adalah seorang imam pada zaman raja Daud Zadok merupakan anak dari Ahitub, keturunan Eleazar. Ia adalah imam di istana Daud bersama dengan Abyatar. Zadok berarti saleh, berbudi, budiman.

  1. Isi Pokok Kitab Yehezkiel

Kisah Kitab Yehezkiel ditulis dengan memakai kata ganti orang pertama, “aku”. Nubuat dan penglihatan dipaparkan dari sudut pandang Nabi Yehezkiel sendiri tentang Bait Suci yang baru, penglihatan tentang kemuliaan Allah yang seolah-olah begitu nyata. Perspektif aku ini selalu dimengerti dalam terang Yeh. 1:3 yakni Allahlah yang menguatkan atau kekuasaan Tuhanlah yang meliputi Yehezkiel.

  1. Nabi Yehezkiel

Yehezkiel diperkirakan mulai berkarya sebagai nabi pada akhir Juni atau awal juli 593 Seb. M. Dalam tahun menjelang Kerajaan Yehuda terperangkap dalam persaingan kekuasaan antara Mesir dan Babel, Babel akhirnya berhasil menduduki Yehuda dan mengambil alih Yerusalem pada tahun 597. Dalam tahun ini juga, Yehezkiel juga agaknya menjalankan tugasnya sebagai seorang imam di Bait Suci Yerusalem. Setelah Babel berhasil menduduki Yehuda dan mengambil alih Yerusalem, beberapa pemimpin Yehuda, termasuk Raja Yoyakhin dan Nabi Yehezkiel sendiri, ditawan dan dibuang ke Babel. Pada saat ini juga, Nebukadnezar mengangkat Zedekia (paman Raja Yoyakhin) untuk menjadi Raja Yehuda. Ini berarti masih tertinggal orang Yehuda lainnya di Yerusalem.

  1. Dalam Masa Pembuangan di Babel

Sepuluh tahun setelah berada dalam masa pembuangan (Yoyakhin, Yehezkiel dan kaum buangan lainnya), Yehuda di bawah pimpinan Raja Zedekia (yang belum mengalami pembuangan) memberontak terhadap Babel. Lalu Raja Babel yakni Nebukadnezar, untuk yang kedua kalinya mengirim tentaranya untuk menghentikan pemberontakan itu dan sekaligus menghancurkan Yerusalem beserta dengan bait sucinya pada tahun 587-586 seb.M.

  1. Nubuat Yehezkiel

Sebagian besar nubuat Yehezkiel disampaikan dalam kurun waktu antara 593 dan 586 seb. M. Ini berarti nubuat ini berlangsung dalam situasi pembuangan. Dalam situasi pembuangan ini, nubuat Yehezkiel tentang Bait Suci yang baru dan kemuliaan Allah mendapat tantangan yang besar. Walaupun demikian, nubuat-nubuat memperlihatkan bahwa situasi pembuangan, melapetaka dan penghancuran bait Allah merupakan akibat dari dosa-dosa orang-orang Yehuda. Mereka telah beribadah kepada ilah-ilah lain. Mereka lebih suka dengan Raja asing daripada mengharapkan pertolongan Allah. Dosa dan kekebalan hati mereka telah menajiskan Yerusalam dan Bait Allah. Karena itu, penghancuran Bait Allah pertanda Kemuliaan Allah telah meninggalkan Yerusalem akibat dosa-dosa mereka. Terhadap dosa-dosa ini, Yehezkiel menubuatkan dengan peringatan bahwa penghukuman akan segera datang. Karena itu, nubuat Yehezkiel juga berisi tuntutan pertobatan Yerusalem.

Nubuat Yehezkiel tidak berhenti pada penghakiman dan penghukuman. Yehezkiel terus membangkitkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Tuhan berjanji akan membebaskan mereka dari pembuangan dan menuntun kembali mereka ke Yerusalem, dan mereka akan beribadah lagi di Bait Suci yang baru. Di sana kemuliaan Tuhan akan kembali bersinar dan bangsa Israel  akan mengakui bahwa tidak ada ilah lain selain Tuhan, Allah Israel.

  1. Susunan Kitab Nabi Yehezkiel

Ada lima bagian yakni

  • Bab 1:1-3:21 : Panggilan Yehezkiel sebagai nabi
  • Bab 3:22-24:27 : Nubuat penghukuman atau pengadilan Yehuda dan Yerusalem berupa malapetaka dan Kemuliaan Tuhan meninggalkan mereka
  • Bab 25:1-32:32 : Nubuat penghukuman terhadap bangsa-bangsa (asing)
  • Bab 33:1-39:29 : Pemulihan Yerusalem dan Israel oleh Tuhan
  • Bab 40:1-48:35 : Kemuliaan Tuhan kembali ke Yehuda dan Yerusalem sehingga mereka disebut Yerusalem baru.

Sumber; Buku

 Buku Alkitab Edisi Studi

Buku Seluk-Beluk Kitab Suci karya Darmawijaya, Pr.

Buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, karya Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (eds.)

Kamus Alkitab karya W.R.F. Browning

Buku Perkenalan Singkat Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karya Stefan Leks

Internet :

https://id.wikipedia.org/wiki/Yehezkiel,

https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Yehezkiel

https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Yehezkiel#Penulis

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Yehezkiel, bdk., https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Yehezkiel

[2] J. Blommendaal. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1993. 1992. Hal.122-123

[3] C. Groenen. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta : Kanisius. 1992. Hal.269, 273.

[4] Darmawijaya. Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya. Yogyakarta: Kanisus. 1990. Hal.23-24, 28-29.

[5] R. Wahyosudibyo. Kitab Nabi-Nabi I. Flores: Nusa Indah. 1966. Hal.395.

Iklan

Ingin Prestasi Baru

IMG_7321

oleh Keisya Djen

Hari berganti hari hingga tahun pun demikian

para cilik hingga opa-oma bergembira

seusai lahir Sang Juru Selamat

tahun pun lahir yang baru yakni 2019

Langkah-langkah makin erat bersama rekan-rekan cilikku

ayah-ibu makin semangat dalam tugas

telah lahir Sang Juru Selamat

dan saya pun ingin semangat belajar yang baru

Telah kutulis dalam agenda baruku

akan kuraih prestasi buat senyum ayah dan ibu

irama musik natal telah turut memacu rasa gembiraku

warna-warni petasan tahun baru telah memacu daya juangku

Semangat akan kutabur

prestasi akan kutuai

hingga titik darah penghabisan

Penulis : Laura Vicuna Keisya Djen, Siswi kelas 5 A SDI Tenau

Imam Sebagai Ada Persona dan Ada Komunal Dalam Pelayanan

IMG_4993

Fr. Yudel Neno

Pendahuluan

 Menarik ketika merenungkan tentang being personal dan being communal. Being personal berarti ada sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Being communal berarti ada sebagai pribadi yang bersama-sama dengan pribadi lainnya. Dari kedua frasa ini, muncul suatu arti integral bahwa ada berarti ada bersama dengan yang lain; ada berarti mengandaikan yang lain dan ada berarti ada untuk yang lain.

Dalam konteks ada entah ada personal maupun ada komunal, sosok seorang imam, perannya direfleksikan sebagai tugas yang menjembatani personalitas manusia dan komunal manusia. Seorang imam ketika ditahbiskan, ia ditahbiskan sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri. Ia bukan ditahbiskan menurut pribadi seorang uskup atau seorang lainnya.  Dan karena rahmat tahbisan berciri khas pelayanan, maka seorang imam sama sekali tidak diperkenankan untuk mengbaikan peran komunalnya, karena ciri khas pelayanan dan pewartaan Sabda selalu berciri komunal atau persekutuan. Atas peran komunal pun seorang imam dengan menghayati dan menghidupi Pribadi Kristus dalam dirinya, ia tidak boleh terlebur begitu saja dalam kebiasaan komunal.

Dalam arti ini, entah ada sebagai pribadi maupun ada sebagai komunal, keduanya tidak saling mendiskreditkan melainkan saling mengakomodir demi karya pelayanan yang lebih efektif dan efisien.

Merefleksikan tentang ada personal dan ada komunal ini, saya membeberkannya dalam beberapa poin di bahwa ini

 

Imam sebagai Ada Personal

Persona diartikan sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Berdiri sendiri yang dimaksudkan adalah memiliki rasionalitas, kehendak bebas dan perasaan sendiri sebagaimana dikaruniakan kepadanya oleh Sang Pencipta sendiri.[1] Dengan kekuatan yang dikaruniakan ini, seorang imam berdiri sebagai pribadi untuk menentukan sendiri keterlibatannya dalam hidup sosial terutama demi pelayananya kepada umat Allah. Walaupun demikian, digarisbawahi bahwa akal budi, kehendak bebasa dan perasaan justru dikarunikan oleh Sang Pencipta, maka penggunaannya pun tidak dapat menyangkal peranan Sang Pencipta serta Kristus sendiri apalagi menggunakan status persona untuk untuk menyangkal peranan Allah. Imam sebagai ada persona justru terlaksana dalam wibawa Kristus sendiri dalam persekutuannya dengan uskupnya untuk memberikan pengajaran yang ontektik tentang Kristus dan atas nama Kristus sendiri.[2]

 

Imam sebagai Ada Komunal

Bertolak dari imam sebagai ada persona, muncul pula arti imam sebagai ada komunal. Seorang imam adalah figur publik. Ciri khas publik ini sebenarnya telah ditandaskan terutama saat menerima Sakramen Tahbisan bahwa ia ditahbiskan untuk melayani umat Alllah.

Pelayanan terhadap umat Allah ini, dimensi komunalnya makin nampak justru karena ia bertindak sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan dalam terang semangat Kristus sendiri. Hanya dengan dan dalam semangat Kristus sendiri misi seorang imam dapat berjumpa dengan persekutuan para umat beriman. Di sini, misi seorang imam sebagai pribadi yang ditahbiskan sangat berarti karena ia membaktikan dirinya demi pelayanan terhadap umat Allah.[3]

 

Tritugas Imam menjembatani Ada Personal dan Ada Komunal

Tugas seorang imam entah sebagai pribadi yang berdiri sendiri maupun sebagai pribadi yang ada untuk sesama, menjadi berarti ketika dibingkai dalam tritugas imam. Tritugas imam itu adalah Imam, Nabi dan Raja. Menjadi Imam untuk menguduskan, menjadi Nabi untuk mewartakan dan menjadi Raja untuk menggembalakan. Tugas menguduskan dalam arti paling tegas adalah melalui perayaan Ekaristi. Tugas perayaan Ekaristi adalah tugas yang mengabdi pada persekutuan. Tugas mewartakan adalah tugas yang membutuhkan ruang publik dalam hal ini umat Allah dalam segala bidang kehidupannya, demi karya Kabar Gembira. Tugas menggembalakan adalah tugas pribadi yang terpanggil secara personal untuk menggembalakan umatnya dalam terang semangat kegembalaan Kristus sendiri.[4]

Dari tritugas ini muncul konsep tentang menjembatani. Apa maksudnya? Dengan menghayati, menekuni dan melaksanakan tritugas ini, pribadi seorang imam disatukan dengan Kristus sendiri, dan pelayanannya pun merupakan suatu pelayanan yang utuh demi keselamatan umat Allah. Di sini, tritugas ini tidak hanya mengamankan seorang imam dalam dirinya sendiri dan dalam keterlibatan sosialnya sendiri melainkan memandang sesama manusia dalam hal ini umat Allah sebagai mitra kerja. Dalam konteks mitra kerja ini, seorang imam dan umat Allah adalah subyek-subyek yang bekerja menurut status dan kemampuan mereka sendiri untuk membawa masuk kabar gembira di tengah dunia modern yang serba egois.[5]

 

Ada personal adalah subyek-subyek yang membentuk ada komunal

Persona berarti subyek yang berdiri sendiri. Sebutan subyek ini menuju pada apa yang dinamakan dengan individu. Entah apapun diistilahnya yang hendak dikenakan kepada pribadi atau individu, perlu dipahami bahwa dalam diri seorang individu, ada ciri personal dan ada ciri komunal. Dalam menjalankan ciri personal, seorang imam adalah makhluk individual. Dalam menjalankan ciri komunalnya, seorang imam adalah makhluk sosial.

Sebagai makhluk individu, seorang imam tidak dapat menyangkal tugas-tugas sosialnya khususnya terkait dengan tritugasnya. Sebagai makhluk sosial, seorang imam tidak boleh mengbaikan begitu saja tugas-tugasnya sebagai makhluk sosial, karena mengabaikan keterlibatan sosial sama halnya dengan mengingkari status sosial  yang melekat dalam diri sendiri. Inilah yang sebenarnya disebut Driyarkara dengan istilah manusia adalah aku yang berkarkter integral. Disebut berkarakter integral karena dalam pribadi manusia ada suatu persekutuan antara aku sebagai jiwa dan aku sebagai badan.

Dari dimensi persekutuan manusiawi ini, ditarik suatu kebenaran lanjutan bahwa ada komunal merupakan ada subyek-subyek yang membentuk komunal. Disebut demikian karena dalam ada komunal, individu seorang manusia dalam hal ini seorang imam sama sekali tidak boleh dileburkan atau menjadi hancur dalam komunal.

 

Penutup

Akhinya, imam sebagai ada persona dan ada komunal dalam pelayanan berarti seorang imam adalah seorang pribadi yang  membaktikan seluruhnya pribadinya demi pelayanan akan umat Allah. Seorang imam, bersama uskupnya, mereka adalah pribadi yang beridi sendiri-sendiri tetapi bertindak dalam nama Kristus dan atas nama Kristus sendiri untuk mewartakan kabar gembira di tengah himpitan zaman modern yang serba perhitungan dan serba egois ini. Karena itu, menjadi imam berarti menjadi pribadi yang utuh entah secara personal maupun dalam keterlibatan sosialnya.

 

Sumber Bacaan :

Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, Dekrit Tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam,  (7 Desembrer 1965), dalam R. Hardawirjana (penerj.), Dokumen Konsili Vatikan II (Jakarta: Obor, 1993) , art., 4.

Katekismus Gereja Katolik, artikel 888.

Simon Blackburn, Kamus Filsafat, (Yogyakart : Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 651.

Mgr. A.M., Sutrisnaatmaka, MSF, Kepemimpinan Dalam Gereja dan Masalahnya, (Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusautama, 2012), hlm. 31-32.

Dr. Edison R.L. Tinambunan, O.Carm, Spiritualitas Imamat, Sebuah Pendasaran, (Malang : Dioma, 2004), hlm. 2-4.

Boumans, Josef, Telaah Sosio-Pastoral Tentang Manusia, Jakarta :

Celesty Hieroni, 2001

Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudius et Spes, Konstitusi Pastoral tentang Gereja Dunia Dewasa ini, 1965

Driyarkara, Nicolaus, Filsafat Manusia, Yogyakarta : Kanisius, 1969.

Huijbers, Theo, Manusia Merenungkan Makna Hidupnya, Yogyakarta :

Kanisius, 1986

Klau, Fauk Nelson, Pendidikan INTEGRAL : Pendidikan Yang Memahami Manusia, Kupang : PT. Grafika Timor Idaman, 2006.

Leahy Louis, Horizon Manusia, Dari Pengetahuan ke Kebijaksanaan, Yogyakarta : Kanisius, 2002.

Magnis Suseno, Franz, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta : Kanisius, 1992

Snijders, Adelbert, Manusia dan Kebenaran, Yogyakarta : Kanisius, 2006

______________, Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan,

Yogyakarta : Kanisius, 2004

[1] Simon Blackburn, Kamus Filsafat, (Yogyakart : Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 651.

[2] Katekismus Gereja Katolik, artikel 888.

[3] Mgr. A.M., Sutrisnaatmaka, MSF, Kepemimpinan Dalam Gereja dan Masalahnya, (Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusautama, 2012), hlm. 31-32.

[4] [4] Dr. Edison R.L. Tinambunan, O.Carm, Spiritualitas Imamat, Sebuah Pendasaran, (Malang : Dioma, 2004), hlm. 2-4.

[5] Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, Dekrit Tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam,  (7 Desembrer 1965), dalam R. Hardawirjana (penerj.), Dokumen Konsili Vatikan II (Jakarta: Obor, 1993) , art., 4.

 

Imamat Itu Sakramen Tetapi Menjadi Imam Itu Pilihan

IMG_4988

Fr. Yudel Neno

  1. Pendahuluan

 Menjadi imam itu pilihan tetapi Allah tidak salah memilih orang untuk menjadi imam. Berbagai problem personal dan pastoral dari seorang imam, seringkali dijadikan sebagai alasan untuk meragukan karya Rahmat Allah yang telah diterima melalui Sakramen Imamat atau Sakramen Tahbisan. Terjadi juga bahwa alasan ‘imam juga manusia’ seringkali dipakai untuk ‘membenarkan begitu saja’ kekeliruan dalam hidup dan pelayanan pastoral. Sakramen Imamat bukanlah suatu alasan otomatis dengan corak paksaan dalam pilihan untuk menjadi imam. Dikatakan sebagai Sakramen justru karena kehadirannya tidak memaksa manusia untuk memilih. Di sini, berlaku juga prinsip sakramental dalam setiap pilihan bahwa seseorang dalam memilih untuk menjadi imam, yang kelak menerima tahbisan imamat, ia tidak boleh karena terpaksa atau hanya untuk memenuhi keinginan atau kehendak pihak tertentu, karena rahmat keselamatan yang diperoleh dan karya keselamatan yang akan diwartakan, bukanlah suatu paksaan. Dengan bebas memilih dalam perjumpaannya dengan perkenanan Allah sendiri, sesungguhnya seorang imam adalah pelaksana karya keselamatan Allah di dunia.

Menyikapi berbagai pergumulan konseptual di atas, saya terkesima untuk merefleksikan tentang Imamat sebagai Sakramen dan pilihan menjadi imam.

 

  1. Imamat Itu Suatu Paksaan?

 Seringkali terjadi bahwa pilihan untuk menjadi imam karena untuk memenuhi kehendak orang tua. Pernyataan ini memang membutuhkan suatu penelusuran yang mendalam tetapi sebagai suatu bahan refleksi, kiranya jelas bahwa jabatan imam yang diperoleh melalui tahbisan merupakan jataban pelayanan sebagai buah dari hasil perjumpaan antara kehendak Allah dalam memilih dan kehendak bebas manusia untuk memilih dan dipilih.

Imamat merupakan suatu Sakramen yang menghadirkan karya keselamatan Allah melalui pelayanan Sakramen, pewartaan Sabda dan tugas kegembalaan. Panggilan terhadap keluruhan ini, tidaklah tepat jika terpaksa. Siapapun dia, dalam tugas apapun ia perlu bergembira dengan pilihannya. Kegembiraan dalam pililhan ini bukanlah suatu kegembiraan psikologis semata melainkan suatu kegembiraan bahwa Allah justru berkarya melalui kehendak bebas kita untuk menjatuhkan pilihan, menjadi pengikutNya tanpa paksaan dari siapapun, termasuk Allah sendiri.

 

  1. Imamat Itu Suatu Popularitas?

Di tengah perhelatan zaman khususnya melalui media sosial yang gencarnya mempromosikan popularitas diri, hidup imamat justru mendapat suatu tantangan yang serius. Gaya hidup popularitas memang tak dapat disangkal tetapi tidak semua pola hidup hidup terutama pola hidup religius mesti menjadikan popularitas diri sebagai suatu gaya hidup. Terutama dalam tugas imamat, patut dicatat bahwa hanya Kristuslah yang mesti ‘dipopulerkan’ atau model hidup kita untuk menjadi popular.

 

  1. Imamat Itu Suatu Alasan Ekonomis?

Tidak ada alasan lain untuk hidup imamat selain pembaktian hidup untuk pelayanan dalam terang semangat Kristus sendiri. Memang, hidup ini tidak terhindarkan dari kebutuhan ekonomis. Uang memang perlu tetapi diperlukan sejauh untuk melancarkan pelayanan Sakramen dan Pewartaan Sabda.

 

  1. Imamat Itu Suatu Kehormatan Sosial?

Melalui Sakramen Imamat, seorang imam resmi masuk dalam jabatan hirarki Gereja. Jabatan ini sesunguhnya bukanlah suatu jabatan belaka semisal jabatan gubernur atau bupati. Jabatan imamat adalah jabatan pelayanan karena mengikuti keteladanan kegembalaan Yesus sendiri sambil menghayati pernyataaNya sendiri “Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani”. Memang tidak dapat dihindari bahwa jabatan imamat mendatangkan suatu kehormatan sosial tetapi seorang imam, ia tidak boleh lupa bahwa ia dihargai justru karena jabatan imamatnya yang bermuara pada pelayanan bukan pada jabatan semata.

 

  1. Imamat untuk Menghindari Biaya Pendidikan yang sangat Mahal?

Seringkali kita dengar bahwa masuk Seminari itu biayanya murah. Sebesar apapun biayanya tidak sebanding dengan pendidikan dan pembinaan yang diperoleh. Anggapan seperti ini, ada saja tetapi perlu digarisbawahi bahwa Imamat bukanlah suatu jalan lain dari jalan yang gagal atau jalan yang tidak dikehendaki.

 

  1. Imamat adalah Jabatan Pelayanan

Pilihan menjadi imam merupakan pilihan di dunia yang bersumber langsung dari keterarahan kodrat manusia untuk menjadi rekan kerja yang dipakai Allah untuk mengatur dunia pada umumnya (makrokosmos) dan manusia pada khususnya (mikrokosmos). Di sini, jabatan imamat justru bersesuaian dengan keterarahan kodrati manusia, di mana setiap manusia terpanggil untuk melayani sesamanya. Panggilan terhadap pelayanan ini mesti berdimensi lebih khusus karena rahmat yang telah diperoleh melalui Sakramen Tahbisan.

 

  1. Menjadi Imam itu Pilihan

 Pada akhirnya, menjadi imam itu memang pilihan tetapi rahmat yang diperoleh dari Sakramen Tahbisan datang dari Allah sendiri. Rahmat yang datang dari Allah sendiri ini sama sekali tidak memaksa manusia untuk memilih jalan yang khusus ini. Rahmat ini pun sama sekali tidak mengubah kodrat kemanusiaan beserta dengan segala kecenderugan manusiawinya. Rahmat dari Allah justru lebih hadir sebagai kekuatan atau pencerahan yang bebas dalam perjumpaannya dengan kehendak bebas manusia.

Pilihan yang bebas ini karena datang dari kehendak bebas manusia atau mereka yang telah memilih jalan hidup khusus, makanya jalan hidup yang lain bukannya dilihat sebagai gangguan atau halangan bagi pilihan hidup khusus melainkan sebagai mitra kerja untuk mewartakan Kabar Gembira dalam status dan profesi yang berbeda-beda.

 

  1. Piilihan menjadi Imam berkanjang dalam Teladan Kegembalaan Kristus sendiri

Yesus Kristus adalah Imam Agung walaupun secara biblis, Ia sendiri tidak pernah menyebutkan diriNya sebagai Imam. Pilihan yang berkanjang dalam teladan kegembalaan Kristus berarti seorang calon imam maupun imam, ia mesti tahu dan hayati bahwa tugasnya adalah menjadi Imam untuk menguduskan, menjadi nabi untuk mewartakan dan menjadi raja untuk menggembalakan. Tritugas Kristus ini menempatkan seorang imam kelak sebagai sosok atau figur yang harus menyentil segala bidang kehidupan manusia dengan kekuatan Sabda dan teladan kegembalaan Kristus sendiri.

 

  1. Penutup

Atas refleksi saya ini, dengan matang saya memutuskan untuk menjadi imam tanpa paksaan dari siapapun dan apapun, dan bukan juga karena berbagai alasan yang telah dikemukan sebelumnya. Hemat saya, pilihan menjadi Imam adalah sebuah jalan terbuka sarat rahmat hingga kelak menjadi Imam Tuhan. Karena itu boleh dikatakan bahwa memilih untuk menjadi imam karena adanya suatu paksaan atau karena berbagai alasan sebelumnya, pilihan seperti ini menyalahi kodrat imamat itu sendiri.

Menjadi imam itu pilihan tetapi Imamat adalah Sakramen yang datang dari Allah sendiri. Dan karena rahmat itu datang dari Allah sendiri maka dibutuhkan kemurnian pikiran, hati, kehendak dan perasaan untuk menyelaminya.

 

Tindakan Kekembalian Sebagai Sebuah Komitmen Iman

IMG_1940

Adven ke-II

 Bar. 5:1-9; Flp. 1:4-6,8-11; Luk. 3:1-6

 

Bapak/i/sdra/sdari yg terkasih dalam Kristus…..

 Ada kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat terkait dengan persiapan untuk menanti kedatangan para pembesar, misalnya Gubernur, Bupati, Camat, Uskup dan seperangkat pembesar lainnya. Saya yakin, kita semua yang ada sekarang ini pernah mengalami itu, bahkan beberapa di antara kita mungkin pernah menjadi anggota penari untuk menyambut kedatangan para pembesar itu. Bahkan para frater juga mungkin pernah mengalami sendiri bagaimana dijemput oleh Umat Allah. Ada kisah bahwa untuk menyambut kedatangan para tamu yang hendak mengikuti misa syukur imam baru, semalam sebelum itu, ada perintah dari pimpinan daerah untuk segera mengerjakan, menyelesaikan jalan itu juga. Hasilnya jalan memang selesai malam itu.

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa tradisi mempersiapkan sesuatu yang perlu untuk menyambut kedatangan para pembesar adalah praktek yang biasa terjadi. Di sini menanti adalah sebuah budaya. Kita perlu membudayakan penantian. Memang generasi milenial biasa bilang menanti dan menunggu adalah pekerjaan yang paling berat. Adapun lagu Loela Drakel dengan penggelan syair terlepas :  jangan kau biarkan aku dalam penantian yang tak pasti. Benar bahwa menanti manusia biasa, seringkali tak pasti dan bahkan menyakitkan. Sudah tunggu stengah mati, dia datang marah tambah kita lagi. Tetapi ingatlah bahwa kalau kita menanti Kristus, itu pasti. Kristus pasti datang dan akan datang. Di sini budaya penantian akan Kristus adalah budaya iman.

 

Bapak/i/sdra/sdari yg terkasih dalam Kristus…..

Kisah-kisah di atas menunjukkan sikap kita mempersiapkan kedatangan manusia yang memang lemah. Karena itu, sebenarnya tak seorang pun dapat memegahkan diri di hadapan Tuhan walaupun ia seorang pembesar dengan sejumlah pangkat yang penuhi baju kebesaran. Bedanya adalah kalau manusia yang kita nantikan justru karena kebesaran jabatan mereka, Kristus yang kita nantikan malah sebagai sosok yang menghambakan diriNya; memiskinkan diriNya; walaupun Ia Putera Allah, tetapi Ia rela mengenakan tubuh manusia, masuk dalam kebiasaan manusia, kecuali dalam hal dosa.

Kini kita memasuki minggu kedua dalam masa Adven. Kalau tadi yang kita nantikan itu manusia, kini yang kita nantikan adalah Sang Juru Selamat; Ia manusia; Ia juga Putera Allah. Sebagai orang beriman Kristiani, penantian akan kedatangan Kristus adalah penantian akan keselamatan umat manusia. Karena itu masa penantian ini tentunya berbeda dengan masa-masa lainnya. Bedanya bukan hanya secara liturgis, melainkan dalam masa ini, iman dan perbuatan kita dituntut untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan.

Kitab Barukh mengetengahkan kepada kita tentang hidup damai sebagai wujud kita untuk menyapa kemuliaan Allah. Di sini, menyapa kemuliaan Allah berarti kita membangun komitmen dalam hidup untuk meratakan segala liku hidup dan perilaku kita. Hidup damai pun dirasakan sebagai bentuk kasih Allah yang tinggal tengah-tengah manusia; tinggal dalam hati manusia. Dalam hati manusia, kasih dalam perjumpaannya dengan rasa damai akan melahirkan pengetahuan dan pengertian yang benar. Dalam bimbingan Allah sendiri, pengetahuan dan pengertian  yang benar ini mengantar kita untuk tak bercacat dalam menyiapkan jalan untuk Tuhan yang hendak datang di tengah-tengah kita. Dengan mempersipakan jalan, meluruskan hati dan pikiran kita, membenahi perilaku kita, sesungguhnya kita menjadikan kasih Allah berbuah secara nyata dalam dunia.

 

Bapak/i/sdra/sdari yg terkasih dalam Kristus…..

Sesungguhnya dalam kerangka mempersiapkan jalan bagi Tuhan, Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengar, menyerukan  Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampunimu sebagiamana dinubuatkan oleh Nabi Yesaya persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan  yang dari Tuhan.

Tugas ini tidak sekedar perintah sebagaimana pemimpin birokrasi memerintah bawahannya. Tugas ini adalah tugas kenabian dan tugas kesaksian. Kesaksian itu adalah kesaksian iman. Seturut pernyataan St. Yakobus, Iman tanpa perbuatan adalah mati, maka sebagai bentuk persiapan kita dalam penantian penuh pengharapan akan kedatangan Tuhan, iman mendorong menuju aksi nyata. Tunjukkanlah kepadaku imanmu tanpa perbuatanmu dan akan kutunjukkan padamu imanku dengan perbuatan-perbuatanku.

 

Bapak/i/sdra/sdari yg terkasih dalam Kristus…..

Inilah aksi nyata itu ; kalau kita masih suka menipu, kembalilah pada jalan kejujuran. Kalau kita suka tidak disiplin, kembalilah pada jalan disiplin. Kalau kita suka mencuri, kembalilah untuk tidak mencuri. Kalau kita malas belajar, kembalilah untuk rajin belajar. Kalau kita malas ke kantor, rajinlah untuk ke kantor. Kalau malas membaca Kitab Suci, kembalilah tekuni Kitab Suci. Kalau kita malas mengikuti Perayaan Ekaristi, kembalilah untuk merayakan dan menghayati Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat Kristiani. Dan masih terdapat berbagai kebiasan kita yang perlu kita benahi.

Panggilan untuk kembali seperti di atas, rasanya biasa-biasa saja dan bahkan terus diulangi-ulanggi dalam setiap khotbah. Bahkan kita terkadang merasa bosan dan merasa tidak penting untuk melakukannya. Pertanyaannya adalah kalau bukan atas cara-cara di atas, maka atas cara manakah kita dapat mempersiapkan kedatangan Kristus dalam masa Adven ini?

Selamat berefleksi, bersaksi, pulanglah luruskanlah jalanmu sendiri-sendiri sebelum anda meluruskan jalan-jalan sesamamu. Yakinlah bahwa Dia yang kita nanti dengan persiapan dan kelurusan hati itu, Ia memang datang untuk kita, datang untuk menyelamatkan kita, datang untuk menjadikan kasih Allah menjadi nyata. Inilah kemuliaan itu, bahwa Allah telah memilih untuk memuliakan manusia dengan mengutus PuteraNya datang ke dunia.

 

Semoga…Amin

 

Refleksi dan Evaluasi Panggilan

IMG_0374

BIODATA

 

  1. Identitas Diri
1.    Nama Lengkap Yudelfianus Fon Neno
2.    Tempat/Tgl lahir Fatuknutuk, 14 juli 1990
3.    Anak ke 6 (ke-VI) dari Delapan bersaudara
4.    Tanggal/Tempat permandian Paroki Kotafoun, 29 November 1990
5.    Tempat/Tanggal Komunio I Paroki Kotafoun, 27 Juli 2001
6.    Tempat/Tanggal Krisma Paroki Kotafoun, 12 Juni 2003
7.    Nama Paroki/Dekenat Sta. Sesilia Kotafoun/ Malaka
8.    Dioses Asal Keuskupan Atambua
9.    Dioses Pilihan Keuskupan Atambua

 

  1. Data Orang Tua/Wali
Keterangan Ayah Ibu
Nama Lengkap Manuel Neno Herkulana Un Hane
TTL    
Alamat Manlea, Fatuknutuk, Desa Kufeu, Kec. Io Kufeu-Kab. Belu Manlea, Fatuknutuk, Desa Kufeu, Kec. Io Kufeu-Kab. Belu
Agama Katholik Katholik
Pendidikan
Pekerjaan Petani Ibu Rumah Tangga
Keterangan Masih hidup Masih hidup
 

 

Data Wali

Nama Yasintha Bano Sesilia Ikun
Alamat Manlea, Fatuknutuk, Desa Kufeu, Kec. Io Kufeu-Kab. Belu Manlea, Fatuknutuk, Desa Kufeu, Kec. Io Kufeu-Kab. Belu
Agama Katholik Katholik
Pendidikan SPG
Pekerjaan Pensiunan Guru
Keterangan Masih hidup Masih hidup (tidak bersuami)

 

  • Data Saudara/i
Nama Tahun Lahir Agama Pendidikan Pekerjaan Ket.
1.  Agnes Bubu Neno 20-06- 1976 Katholik SMEA IRT Menikah
2. Petronela B. Neno 02-02-1979 Katholik Perguruan Tingggi Guru SMP menikah
3.  Maria Ansila F. Neno 13-09-1983 Katholik SMA IRT Menikah
4.  Maria Wendelina L. Neno 21-12-1985 Katholik SMK IRT Menikah
5.  Dominikus L. Neno 06-05-1988 Katholik SMA Swasta Belum Nikah
6.        
7. Yanuarius K. Neno 07-01-1993 Katholik Kuliah Pelajar Menikah
8   Maria Erminolda  Funan 27-05-1995   SMA Pelajar

 

 

 

 

  1. Riwayat Pendidikan

 

Jenis Sekolah/TOP Tempat Sekolah/TOP Lamanya Pendidikan/TOP
(Pra SD/TK)
SD SDK Fatuknutuk 6 tahun (1997-2003)
SMTP SMP N 3 Atambua 3 tahun (2003-2006)
SMA Seminari Lalian 4 tahun (2006-2010)
KPA
Kursus
Tahun Rohani TOR LO’o Damian 1 tahun (2010-2011)
Perguruan Tinggi FF/Unwira 4 tahun (2011-2015)
Masa TOP SMK Katolik St. Pius X Insana 2 tahun (2015-2017)
Studi Teologi Seminari Tinggi Santo Mikhael 2 tahun (2017-2020)

 

  1. Riwayat Jasmani

Fisik

  • Berat Badan : 55 kg
  • Tinggi badan : 162 Cm
  • Golongan Darah :  A
  • Penyakit yang biasa diderita : Badan gatal-gatal

 

Bakat Khusus/Hobi/Minat

  • Bakat Khusus : Membaca, Menulis dan Berbicara

(Publik Speaking)

  • Hobi/Minat : Musik (Orgel, Gitar dan Vokal),

berorganisasi, mengarang lagu

 

REFLEKSI PANGGILAN

 

  1. KISAH AWAL PANGGILAN HIDUP

Dari lubuk hati, jujur saya katakan bahwa sejak sebelum menduduki bangku SD saya telah memiliki motivasi untuk menjadi imam. Motivasi ini timbul dari pengalaman nyata saya. Ada senyuman Bunda Maria yang senantiasa terbayang dan memberikan inspirasi. Ada ketertarikan dan kekaguman terhadap sosok seorang frater dan seorang imam waktu itu. Mereka itu dihargai, diagung-agungkan dan sangat disayangi oleh banyak orang. Jubah putih yang dikenakan terpancar melalui sikap mereka yang adil dan bijaksana serta memperhatikan dan memahami setiap orang. Sejak waktu itu, saya bercita-cita untuk sekolah di seminari menengah dengan motivasi awal, ingin mengenankan jubah seperti mereka.

Merealisasikan niat ini, sebagai komitmen awal, setiap hari minggu saya rajin ke Gereja, dengan motivasi menyaksikan jubah putih dan mendengar pastor berkotbah, sekalipun tak mengerti isi kotbah seluruhnya. Banyak kali saya menjadi ajuda, membacakan Kitab Suci dan menyanyikan mazmur saat perayaan berlangsung.

 

  1. AWAL REFLEKSI

Waktu terus bergulir, jenjang pendidikan saya semakin meningkat pertanda kerinduan saya makin mendekat. Saya mengenal baik kemamuan intelektual saya. Sekurang-kurangnya selalu masuk dalam kategori juara 3 besar sejak SD hingga SMP. Tamat SMP, Saya memutuskan untuk masuk seminari tanpa paksaan dari siapapun. Cita-cita saya perlahan namun pasti mulai terukir dalam hati. Motivasi semakin kuat dan teguh. Proses pendidikan dan pembinaan pun berjalan.

Seminari Lalian, Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian dan Seminari Tinggi St. Mikhael memberikan kepadaku banyak input. Di seminari lalian, saya mempelajari karakter puber ketika diperhadapakan dengan panggilan. Di seminari tinggi tahun orientasi rohani, saya mempelajari pentingnya kerohanian dalam jalan panggilan hidup ini. Di seminari tinggi St. Mikhael, saya belajar untuk memadukan ilmu dan kerohanian menuju kepada kebijaksanaan.

Saya belajar banyak dan menemukan betapa pentingnya dinamika dalam hidup. Dinamika itu sungguh menyegarkan. Yang dulunya saya berpikir bahwa menjadi imam demi mendapatkan penghargaan, sekarang mulai dipahami secara perlahan dan bertahap. Melalui langkah yang pasti saya menemukan bahwa ternyata menjadi imam bukan soal penghargaan tetapi sejauh mana saya membaktikan pikiran, perkataan, perbuatan dan seluruh hidup saya kepada Tuhan, Sang  Maha Agung, Sang nahkoda kehidupan. Saya tahu bahwa panggilan Tuhan bersifat bebas, karena itu saya menyadari bahwa pihak yang paling berperan untuk menentukan masa depan dan jalan panggilan hidup saya adalah saya sendiri.  Dalam artian bahwa tidak perlu dipaksa oleh siapun dia, kapanpun dan di manapun, sebab kelak bukan mereka yang menjalaninya tetapi sayalah yang bergumul dengan itu semua, jika Tuhan memperkenankan saya.

Melalui pembinaan, kegiatan-kegiatan produkttif yang telah dillaksanakan secara komunitas maupun pribadi baik dari aspek rohani, jasmani, moralitas, psikomotorik, afektif dan kognitif, di sana menuntun dan meruncing kehendak saya untuk membentuk diri, memperkuat dan memperteguh cita-cita. Saya sungguh taat dan giat terutama dalam hidup rohani. Bagiku tiada hari tanpa doa dan silentium serta mempersembahkan seluruh pikiran, perkataan,  perbuatan  dan seluruh hidup saya kepada Tuhan.

Karena menurut saya, dalam situasi silentium, saat itu  jiwa terentang tanpa kata dan menyerah secara total ke hadirat Allah untuk memahami kebesaran dan keagungan Allah. Secara pribadi saya bersaksi bahwa justeru dalam keheningan, Allah memberi kekuatan dan membangkitkan semangat perjuangan dalam hidup sehari-hari. Bagiku hidup doa dan ekaristi adalah kekuatan yang paling utama. Saya mengalami dan merasakan betapa kuat pengaruhnya hidup doa dan ekaristi dalam perjalanan hidup sebagai seorang frater. Sebagai orang muda, tidak ada kekuatan lain untuk membendung godaan-godaan hedonisme-konsumerisme-sekularisme serta individualisme selain doa.

Dalam doa dan keheningan saya menemukan bahwa ternyata peristiwa-peristiwa besar ditemukan di dalam keheningan-keheningan rohani bersama Allah bukan di dalam keramaian profani. Hidup doa, hidup meditasi mampu memberikan kepadaku kesehatan fisik dan mental yang terjaga dan seimbang.

Dalam hidup, saya berprinsip bahwa jika ya tetap ya, jika tidak katakan tidak sebab apa yang lebih dari itu dapat berasal dari si jahat (Mat. 5 : 37). Yang paling penting bagi saya adalah bukan berapa kali kegiatan yang telah dilaksanakan dalam beberapa jangka waktu berdasar pada aturan hidup harian, tetapi sejauh mana kesadaran dan pemahaman serta pemberian diri sungguh-sungguh dalam kegiatan-kegiatan kegiatan tersebut. Saya berpikir dan merasa sangat bebas dalam mengikuti aturan tanpa paksaan. Untuk apa saya mengikuti aturan hanya karena mau menyenangkan pihak lain atau hanya sekedar untuk mencari popularitas.

Prinsip saya, kesadaran ; kunci kedisiplinan, kedisiplinan ; jalan menuju pembentukan diri yang produktif dan keberhasilan ; hasil akhir dari kombinasi yang seimbang antara kesadaran, ketekunan dan kedisiplinan. Saya tidak pernah berpikir apalagi  bertindak untuk disiplin karena takut, karena semua yang saya lakukan itu demi masa depan yakni menjadi seorang pengikut Kristus yang setia dan berani mengatakan kebenaran.

Proses penggapaian cita-cita, membutuhkan perjuangan yang serius, luwes dan fleksibell. Saya berjalan bersama denagan teman-teman saya, hidup dalam komunitas yang sama, bernaung di bawah atap yang sama, saling percaya, bersatu bergembira dan setulus hati saling membantu, berjuang bersama menuju cita-cita yang sama. Saya tahu dan menghayati walaupun belum sempurna bahwa menjadi imam secara otomatis tidak boleh menikah. Dalam arti ini tidak berati bahwa saya tidak boleh bergaul. Sebab hemat saya, imam sebagai figur publik mengandaikan bahwa kehadirannya berguna bagi banyak orang. Kegunaan bagi banyak orang tentun tidak dapat menyangkali dimensi relasi. Relasi berjalan tetapi dalam koridor tiga nasehat injili yakni ketaatan, kemiskinan dan kemurnian.

Saya senantiasa berjuang dan tekun untuk mengetahui semua tentang jalan panggilan hidup, mengasah hidup rohani, mengolah aspek afeksi hidup, menghayati aspek moralitas,  mengaplikasikan apa yang saya tahu, dengan petunjuk-petunjuk rohani. Bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip hidup. Bertindak untuk mengagungkan kebenaran dasariah dan universalitas manusia. Saya tercipta menurut citra Allah untuk mengindahkan hidup dan masa depan saya.

 

  1. PETUALANGAN DIRI DALAM ASPEK-ASPEK KEHIDUPAN
  2. Petualangan Spiritual

Refleksi bathin yang mendalam memberi makna bagi setiap pengalaman hidup. Bagiku, untuk mengubah dunia, tidak perlu dengan perbuatan besar, cukup dengan perbuatan-perbuatan kecil yang dilakukan dengan hati rela berkorban dan berjiwa besar.

Segala usaha dilakukan sembari membenahi kekeliruan-kekliruan yang sering muncul silih berganti. Bagi saya, menarik ketika berusaha dalam segala keterbatasan. Keterbatasan justeru merupakan pintu untuk bergerak melampuinya.

 

Doa dan brevir

Saya menyadari bahwa panggilan ini kuat karena dekatnya relasi bersama Tuhan melalui doa dan brevir entah secara komunitas maupun secara individu. Menjadi satu kebangaan adalah kekuatan rohani selalu menjiwai semangat dalam aktivitas hidup harian.

 

Ekaristi

Bagiku ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan. Ada satu rumusan doa pribadi yang khas menjelang ekaristi dan menjelang menerima komuni kudus. Allah Roh kudus Pemberi kekuatan, terima kasih atas berkat dan perlindungan-Mu dari istirahat saya semalam hingga Engkau masih memberikan kesempatan bangun pagi bagiku. Allah Bapak Pencipta, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah menciptakan saya untuk dicintai. Engkau memberikan nafas kehidupan kepadaku. Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas berkat dan karya penyelamatan-Mu. Perkenankanlah aku untuk menyambut dan meminum Tubuh dan Darah-Mu yang kudus itu. Saya percaya dan mengalami betapa kuatnya ketika mengandalkan Tubuh dan Darah-Mu itu. Seluruh pikiran, perasaan, kehendak, sikap dan perilakuku kuserahkan ke dalam pemurnian-Mu di dalam Tubuh dan Darah-Mu.

 

Pengakuan Dosa

Setiap kali ada sakramen pengampunan dosa saya selalu mengikuti dengan sepenuh hati. Saya merasakan suatu pembaharuan dalam diri setelah pengampunan dosa. Saya juga selalu mendaraskan Doa Tobat dan Doa Ya Yesus Yang Baik, dalam doa harian saya untuk meminta pengampunan dari Tuhan.

 

Devosi Khusus

Sejak dari kecil saya selalu berdoa kepada Bunda Maria. Masa SMP, saya sangat menekuni doa rosario. Masa seminari menengah, saya menekuni meditasi dan kontemplasi. Masa Seminari Tinggi TOR, saya menekuni doa dan meditasi secara khusus menjelang misa pagi, setelah misa pagi, menjelang ibadat sore dan setelah ibadat sore. Masa Seminari Tinggi St. Mikhael, menekuni doa salam maria setiap pagi, siang dan malam, setiap kali memulai dengan suatu kegiatan.

Saya perlu mengakui bahwa sampai di sini kesempatan untuk menjalankan meditasi jarang berjalan karena terlepas dari segala macam kesibukan juga dengan situasi yang sangat sulit untuk bermeditasi. Saya hanya memiliki kesempatan untuk meditasi dalam kapela ketika doa pribadi dengan gaya berlutut. Sampai sekarang jika dalam perjalanan atau kegiatan, saya tidak nyaman jika tidak membawa rosario.

 

Rekoleksi dan Ret-Ret

Banyak persoalan ditemukan dalam refleksi. Persoalan-persoalan inipun banyak kali terbantu melalui siraman rohani dalam setiap kali rekoleksi dan atau ret-ret.

 

Salve dan Kunjungan Sakramen Maha Kudus

Saya selalu mengikuti salve dengan sungguh-sungguh. Dalam keheningan, memandang sakramen maha kudus adalah kekuatan. Inilah kekuatan yang senantiasa membaharui.  Saya mengakui bahwa sejauh ini, saya belum memprogramkan untuk mengunjungi sakramen maha kudus (visitasi). Visitasi ini sangat pesat saya kembangkan di seminari tinggi TOR Lo’o Damian waktu itu. Dan ini akan menjadi suatu perhatian besar di masa mendatang demi perkembangan kerohanian dan kepribadian saya.

 

Refleksi Biblis

Sejak Seminari Menengah dan masih berlaku hingga sekarang, saya selalu merefleksikan isi kitab suci dan mengaitkannya dengan kehidupan praktis harianku. Saya memiliki kebiasaan membaca Alkitab sejak SD, dan baru mendapat pemahaman yang benar ketika di seminari menengah hingga sekarang.

 

  1. Petualangan Kognitif

Metode Belajar Yang Dipakai

Saya mengenal diri saya dalam kategori belajar visual-praktis. Dengan tekun membaca sendiri, meringkas kemudian menganalisis. Metode inilah yang saya gunakan selama ini. Dan hasilnya pun selalu maksimal.

 

Kendala

Membutuhkan banyak waktu untuk membaca, meringkas dan menganalisis serta membutuhkan ketenangan yang intim. Karena itu saya sering mengalami kesulitan karena banyaknya kegiatan dadakan yang terkadang menyita banyak waktu.

 

Orientasi

Orientasi saya dalam hidup adalah memiliki banyak pengetahuan dan luas jangkauannya. Karena itu, dengan sangat jujur saya mengatakan IP-IPK bukanlah ukuran pertama dan utama kualitas diri saya tetapi sejauh mana proses itu membentuk saya. Yang paling penting adalah saya tekun dan serius membaca dan belajar untuk menggapai yang ditargetkan.

 

 

Faktor Pendukung

Kebiasaan rajin dan tekun sudah sejak lama sehingga menjadi faktor yang sangat mendukung dalam proses pembelajaran saya.  Adanya teman-teman dan para formatur pun turut membentuk semangat saya.

 

Ilmu Yang Disukai

Saya sangat menyukai ilmu Filsafat dan Teologi. Saya sangat rajin dan tekun untuk membaca dan belajar tentang hal-hal filosofis dan hal-hal teologis. Terutama sekarang, saya sangat suka mempelajari ajaran-ajaran Gereja.

 

  1. Petualangan Afeksi

Pengelolaan emosi

Sejauh ini saya selalu mengelola emosi saya. Cara praktis yang saya gunakan dalam mengelola afeksi atau emosi (marah) adalah dengan menarik nafas menahannya kemudian menghembuskan secara perlahan untuk kembali menetralkan ketegangan emosional. Pertimbangan selalu dilakukan menyikapi suatu persoalan sehingga marah-marah pun jarng terjadi. Hingga kini, saya tidak pernah mengekspresikan secara buruk emosi saya entah itu emosi positif maupun negatif.

 

Cara bertutur

Menghargai orang atau teman itu penting. Mendengarkan teman-teman dan mereka yang lain berbicara adalah perbuatan yang paling menyenangkan. Ketika orang berbicara kita mendengarkan mereka dengan tulus maka yakinlah bahwa ketika anda berbicara pasti ia akan mendengarkan anda. Saya memiliki cara bertutur yang khas. Saya sangat suka berbicara di depan umum (publik speaking).

 

Relasi

Relasi itu penting bahkan harus. Tentunya relasi secara sehat itulah yang diinginkan. Yang dimaksudkan adalah membangun relasi yang baik dan positif dengan siapa saja tanpa mengsubordinasikan yang lain. Ada dua kategori berelasi, yakni relasi dengan sesama jenis dan dengan lawan jenis.

 

Relasi Dengan Lawan Jenis

Secara khusus, dalam kaitannya dengan keberadaan saya sebagai frater, relasi ini sangat penting untuk diperhatikan. Sekian fakta menunjukkan terhambatnya panggilan karena relasi dengan wanita. Walaupun demikian, seorang wanita bukannlah pembasmi panggilan.

Saya secara pribadi merefleksikan itu bahkan sendiri pernah mengalami tingginya tingkat pergumulan seksual. Walaupun demikian, kesadaran yang tulus segera menormalkan situasi.

Sejak memasuki Seminari Tinggi St. Mikhael, saya belajar banyak hal. Saya merasakan indahnya bersahabat dengan semua orang tanpa kekhususan.

Khususnya tentang relasi dengan perempuan, selama ini berjalan normal. Dalam arti, tidak ada relasi khusus dengan wanita. Karena hemat saya, itu bukan persiapan yang cocok dengan jalan panggilan ini. Jalan ini adalah jalan kepentingan banyak orang karena itu menuntut pembaktian diri yang utuh dan menyeluruh. Tetapi itu tidak berarti bahwa merasa kagum terhadap wanita itu tidak boleh. Hemat saya, saya tidak berdosa karena membangun relasi yang baik dengan mereka.

Saya juga menyadari bahwa membangun relasi khusus itu, lazimnya berlaku untuk mereka yang harus hidup menikah, karena itu merupakan tahapan untuk saling mengenal. Relasi dengan mereka merupakan suatu tindakan antisipatif agar kelak mereka dapat diakomodir sebagai rekan atau mitra karya pastoral. Bahkan terkadang kesaksian hidup mereka memberikan kekuatan tersendiri bagi saya.

 

Relasi Dengan Sesama Jenis

Relasi dengan sesama jenis secara khusus dengan saudaraku secita; para frater terus dipupuk dari waktu ke waktu. Saya merasakan indahnya hidup bersaudara dengan rukun. Untuk itu, saya ingin merenungkan KITAB MAZMUR, 133:1-3.

 

Persaudaraan Yang Rukun

133:1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! 133:2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. 133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

 

Dari kutipan Kitab Mazmur ini, saya merefleksikan indahnya hidup bersaudara dengan rukun. Kerukunan dan kedamaian inilah yang menjadi utama karena setelah itu yang lain hanya merupakan konsekuensinya. Bahwa sering muncul rasa ketidakpuasan terhadap teman-teman atau kakak atau adik yang bertindak semaunya, tetapi bahwa hal itu memang perlu terjadi juga. Dalam relasi ini juga saya merasakan betapa dahsyatnya memiliki rasa rendah hati, saling menghargai dan berhati besar. Sejauh ini saya tidak pernah memiliki musuh dalam selimut. Dan tidak pernah meremahkan teman-teman. Prinsipnya ada hal yang tidak beres perlu dibicarakan dengan tegas bahkan terkadang ekstrem tetapi dengan itu tidak menjadi pemicu untuk saling bermusuhan. Saya sering berbicara dengan tegas tetapi saya tidak pernah berniat memusuhi.

 

Relasi Dengan Para Pembina

Banyak perspektif menampakkan kejanggalan subyektif khususnya dalam relasi dengan para pembina. Tetapi bagi saya, mereka adalah tokoh-tokoh yang patut diteladani menurut gaya mereka masing-masing. Membenci pembina itu sia-sia, sebab kebencian tidak dapat mengubah status mereka. Banyak hal mereka lakukan dan saya secara pribadi tidak pernah merasakan dari yang banyak itu sebagai penghalang untuk saya. Saya yakin dan percaya bahwa seorang pembina tidak pernah memiliki niat jahat untuk mencelakakan anak binaannya. Bahwa ada hal yang memang tidak bisa ditolerir, itu bukan wujud kebencian. Karena perspektif ini, maka saya selalu betah mendekati para pembina, secara khusus para pembina Keuskupan Atambua.

  1. Kepribadian dan Psikomorik

Dari begitu banyak kegiatan, hal-hal prinsipiil lainnya, saya menemukan diri melalui refleksi yang mendalam bahwa ternyata saya adalah pribadi yang mulai dan telah terpola dengan pola hidup rajin, bertanggungjawab, tekun, serius, komitmen, disiplin. Walaupun saya akui, akhir-akhir ini mulai mengalami penurunan.Walaupun demikian, komitmen tetap ada, karena bagi saya, komitmen adalah pijakan yang kuat untuk berlangkah menuju masa depan.  Berbagai sikap arogansi pun dihindari  sebab hidup bersama yang baik hanya mengandaikan kerendahan hati yang baik pula.

 

Disiplin Diri dan Prinsip Hidup     

Disiplin dan prinsip hidup adalah pegangan menuju masa depan. Saya selalu merasakan getar-getar penyesalan jika ada kelalaian dalam aturan hidup. Selama ini saya selalu bergerak dalam suatu kedisiplinan serta prinsip hidup yang bebas. Bebas dalam arti dilakukan dengan penuh kesadaran. Karena itu, seringkali terjadi pelanggaran segera kembali mengingatkan saya untuk berbenah.

 

Keunggulan dan Keterbatasan dalam diri

Hal-hal yang sangat positif dalam diri saya sekaligus menjadi kebanggaan saya adalah : memiliki prinsip hidup, komitmen, tanggung jawab, rajin, tekun, taat, disipilin, rapi, neces, sistematis, memiliki inisiatif yang selalu saja dilaksanakan, mudah memanagemen waktu dan kesempatan, tahu menempatkan diri dengan siapa saja di mana saja berada. Saya orang yang sangat suka keheningan karena itu selalu saja ada kesempatan untuk merefleksikan seluruh kegiatan yang telah dilewati. Saya suka sesuatu yang prosedural serta suka membuat jadwal dan rencana demi pengembangan pribadi. Semuanya ini selalu dilakukan dengan bebas tanpa paksaan entah dalam berdoa, belajar, bekerja.

 

 

 

 

Inisiatif dan Kreativitas Pribadi

Apa yang saya pikirkan pada umumnya selalu dilaksanakan. Karena menurut saya kreativitas yang paling tertinggi adalah mewujudnyatakan apa yang saya pikirkan sekalipun hal kecil. Dan hal-hal ini nampak melalui tugas serta peran-peran kecil yang diserahakan atau dipercayakan kepada saya.

 

Aspek Pastoral

Ha-hal kecil yang selalu saja saya lakukan dengan senang hati adalah membantu teman atau adik yang kesulitan akademik, dengan memberikan solusi sesuai dengan kemampuan saya ketika saya diminta penjelasan. Kerja sama yang baik selalu dilaksanakan. Membantu teman-teman lain yang kesulitan adalah praktek biasa. Misalnya meminjamkan uang jika saya ada. Memberikan sabun, minyak rambut serta hal-hal lainnya yang sesuai dengan kemampuan saya.

 

Kesehatan Psikis dan Fisik

Sampai sekarang saya masih memiliki kesehatan psikis dan kesehatan fisik yang baik.

 

Pengaruh Keluarga dan Budaya terhadap Panggilan

 

Pengaruh Keluarga

 

  1. Keadaan sebagai Petani

Bapak saya adalah seorang petani; seorang pekerja keras. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki keahlian menenun. Hidup bertani dan menenun merupakan aktivitas utama untuk mendapatkan penghasiilan demi kesejahteraan dalam hidup keluarga.

Segala kebutuhan dalam hidup keluarga selalu diatur dengan baik sehingga selalu saja berkecukupan. Saya mengakui manajeman waktu yang luar biasa dari sang ayah. Saya juga mengakui managemen rumah tangga yang luar biasa dari ibu tercinta. Intinya kedua tokoh ini adalah kekuatan terbesar saya dalam menapaki panggilan yang suci ini.

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Sikap yang berarti dan berharga untuk saya sebagai kekuatan untuk menapaki jalan panggilan hidup saya adalah menajemen waktu dan menajemen rumah tangga.

Kelak, setelah menjadi imam, tips-tips ini merupakan suatu kekuatan tersendiri dalam memanajemen segala kegiatan di tempat mana ditugaskan.

 

  1. Kesederhanaan

Kami semua diajarkan untuk hidup sederhana tetapi bukan hidup melarat. Karena ayah dan ibu adalah seorang pekerja keras maka kesederhanaan adalah sikap yang paling tepat untuk menghargai semangat kerja keras.

Sebanyak apapun penghasilan, sederhana dalam penampilan dan penggunaan keuangan adalah petuah-petuah susila yang selalu mengiang dalam lubuk hati.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Hidup sederhana adalah kekuatan dalam panggilan hidup saya. Dari situ saya belajar untuk tidak kikir secara sosial tetapi bukan berarti boleh hidup berboros-borosan.

 

  1. Semangat Kerja Keras

Ayah dan ibu saya adalah orang-orang pekerja keras. Semangat ini digerakkan oleh satu prinsip sederhana. Siapa tidak bekerja janganlah ia makan. Orang yang tidak bekerja, tidak pantas untuk hidup.

Saya mengalami betapa sang ayah adalah sosok yang sangat komitmen dengan waktu dalam bekerja. Setiap jam lima pagi ayah sudah beranjak ke kebun. Sebelum itu pun ibu sudah lebih dahulu menyiapkan bekal, sirih pinang, tembakau dan air minum untuk ayah. Setelah bekerja sehari suntuk di kebun, selalu saja tepat jam enam sore, ayah tiba ke rumah.

Salah satu nasehat bijak yang selalu saya ingat dari ayah adalah bekerja keras janga lupa istirahat. Istirahat untuk menyusun strategi dan menyiapkan tenaga ibarat parang butuh di asah agar ia makin tajam.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Semangat kerja ini selalu saya teladani dalam menjalankan panggilan saya. Apa  yang saya rencanakan, saya berusaha semampu saya untuk melaksanakannya. Walaupun demikian, saya tidak selalu memaksa diri di kala kecapaian.

  1. Semangat Berbagi

Saya belajar terutama dari ibu yang suka berbagi dengan tetangga. Kami semua sejak kecil mengalami sikap bijak ibu yang luar biasa. Sedikit daging ayam hutan, hasil sumpit dari ayah seusai pulang kebun, ibu selalu membaginya sama rata untuk kami nikmati.

Saya tidak pernah mengalami bahwa ayah dan ibu menggunakan alasan status mereka untuk mendapatkan pembagian yang lebih banyak atau lebih besar porsinya.

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Semangat berbagi merupakan suatu sikap pilihan moral. Sebagaimana ibu dan ayah membagi tidak dengan motivasi dou ut des, dengan itu saya belajar untuk menerapkan semangat berbagi sebagai kekuatan yang terpancar dari cinta kasih.

 

  1. Perhatian yang Tulus dan Kasih Sayang sama Saudara

Kami semua berjumlah delapan bersaudara. Ada lima saudari dan tiga saudara, termasuk saya. Karena dari anak pertama hingga anak keempat perempuan, maka kami pun merasakan belaian kasih mereka dari masa kecil hingga sekarang. Perhatian seperti ini pun terbawa hingga sekarang. Entah di antara saudari perempuan maupun laki-laki, kami saling memperhatikan dengan tulus dan saling menyokong di antara kami.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Kasih sayang yang tulus ini merupakan kekuatan bagi saya untuk mengasihi siapa saja sebagai sesama. Mengasihi dengan tulus adalah kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kerukunan yang lebih intens.

 

Pengaruh Budaya

Saya secara pribadi memahami budaya sebagai pengungkapan diri dalam bentuk produk dan praktek. Budaya merupakan kebiasaan-kebiasaan untuk mempertahankan produk dan praktek yang telah diturunkan dari setiap generasi ke generasi berikutnya.

 

  1. Faktor dan Status dalam Suku

Entah Bapak maupun mama, dan kami semua, masuk dalam Sonaf Kufeu dengan suku Etonaek. Suku Etonaek dalah suuk terbesar dan bahkan terpertama dalam Sonaf Kufeu. Dalam suku ini, berdasarkan garis keturunan ibu, nenek saya adalah anak pertama dalam suku sehingga turunan dari nenek pertama merupakan pengendali produk, praktek dan ritus dalam Sonaf Kufeu dan Suku Etonaek.

Mungkin karena posisi suku saya, menduduki tempat penting maka penghargaan untuk kami pun tigak tanggung-tanggung.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Merupakan suatu kebanggaan bahwa kami menjadi suku penting di antara suku-suku lainnya dalam jajaran tubuh Sonaf Kufeu. Walaupun demikian, sebagai calon imam, status ini tidak untuk dibangga-banggakan hingga mendatangkan kesombongan untuk tidak mau diatur dan tidak mau taat perintah. Untuk saya, jabatan adalah posisi kedua setelah sikap taat dan sikap saling menghargai diutamakan.

 

  1. Pembawaan Diri

Penghargaan yang tinggi menuntut pembawaan diri yang baik pula. Dalam budaya saya, tak seorang pun dapat dihargai dengan tulus, jika ia selalu berlaku menyakiti dan merugikan sesama. Walaupun demikian, untuk saya pembawaan diri yang baik bukanlah media untuk mencari popularitas diri.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Saya belajar untuk membawakan diri secara baik dengan setiap orang termasuk juga dengan mereka yang terkadang menyakitkan dan merugikan. Untuk saya, pembawaan diri yang baik, di satu sisi merupakan berita gembira bagi mereka yang sering menyakiti dan merugikan sesama.

 

  1. Selalu Dilibatkan

Dalam setiap acara budaya, jika saya lagi berada di kampung halaman, saya selalu terlibat.Dari keterlibatan ini, saya belajar petuah-petuah adat yang sangat bijak untuk direfleksikan. Kebijakan-kebijakan para tua adat dan ketua suku merupakan kekuatan tersendiri untuk kelak berhadapan dengan persoalan yang mengitari hidup dan karya umat.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Dari sini saya belajar, bahwa keterlibatan yang tulus membuka jalan untuk mudah memetik hikmah dari suatu aktivitas dan suatu kebijakan.

 

 

  1. Budaya Atoin Amaf

Budaya saya menghargai Om sebagai Atoin Amaf. Sapaan yang khas untuk Om adalah “bab atau baba” dan untuk Om yang lebih tua biasanya disapa dengan “Am Hoen atau Bab Hoen.” Mereka ini masuk dalam jajaran Atoin Amaf.

Atoin Amaf merupakan penentu segala kebijakan dalam urusan adat. Dalam budaya saya, karena Sonaf dan Suku penting adanya, maka suara dan kebijakan dalam segala urusan adat dan suku, yang datang dari kami memiliki pengaruh dan kekuatan yang begitu besar.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Walaupun demikian, status dan budaya Atoin Amaf, ini tidak dilebih-lebihkan sebagai segalanya. Bagi saya Atoin Amaf adalah jabatan menurut kebiasaan tetapi kebenaran sesungguhnya tidak bergerak menurut jabatan. Pemahaman ini tidak berarti bahwa meremehkan posisi mereka tetapi saya sendiri secara pribadi menemukan bahwa seringkali mereka menggunakan jabatan mereka untuk mempersulit dan mencari keuntungan.

 

 

  1. Budaya Anak Mantu

Saya menyaksikan, menjadi anak mantu dalam suku saya seringkali terkesan ibarat “seorang pesuruh.” Yang paling saya tidak terima adalah ada diskriminasi perlakuan terhadap anak mantu berdasarkan status, terkhusus dalam acara-acara adat. Kalau ada seorang anak mantu polisi atau dosen tentunya pekerjaannya lebih sedikit daripada anak mantu seorang ojek atau petani.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Saya mengakui bahwa kebiasaan ini telah bertahan lama tetapi secara jujur saya tidak simpatik dan tidak ingin mengikuti perlakuan diskriminasi berdasarkan jabatan. Untuk saya, martabat adalah segalanya dan paling tertinggi dari segala jabatan.

 

  1. Budaya Suka Menghubungkan Peristiwa

Salah satu kebiasaan yang dihidupi hingga kini adalah suka menghubung-hubungkan suatu kenyataan dengan masa lalu. Seorang yang meninggal karena penyakit selalu saja dihubungkan dengan masalah adat.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Sikap seperti ini terkesan menampakkan lemahnya sikap kritis. Karena itu saya pun tidak mau mengikuti dan menghidupi sesuatu yang ambigu sifatnya sembari tidak kritis terhadap persoalan dan kenyataan.

 

  1. Budaya Gotong Royong

Gotong royong yang paling dirasakan adalah disaat mempersiapkan lahan ketika musim hujan tiba. Gotong royong ini berlanjut hingga proses menanam dan memanen jagung. Saah satu kebiasaan setelah memanen adalah pembagian hasil berdarkan jasa. Ketulusan pemilik jagung biasanya teruji karena si pekerja biasanya mengambil sendiri dari hasil kerjanya.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Dari sini saya belajar bahwa keterlibatan yang tulus dalam gotong royong akan membawa hasil yang memuaskan serta pula menciptakan kegembiraan bersama di kala bersama-sama menikmati hasil yang sama, yang berlimpah ruah.

 

  1. Budaya Sapa-Menyapa

Orang-orang saya memiliki kebiasaan sapa-menyapa yang luar biasa. Jauh sekalipun, selama ia masih dijangkau mata, selalu ada sapaan. Sapaan yang paling khas adalah undangan untuk menikmati sirih pinang atau sekurang-kurangnya ajakan untuk singgah sebentar.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Saya kagum dengan kebiasaan ini. Mengapa karena dibalik sapa menyapa ini terkandung suatu rasa peduli yang luar biasa terhadap setiap sesama yang melewati depan pekarangan rumah.

 

  1. Budaya Balas Jasa

Budaya balas jasa sangat tinggi dan masih dihidupi hingga sekarang. Budaya balas jasa yang kuat, nampak dalam segala urusan adat maupun pesta atau pun kematian ataupun acara-acara lainnya. Selalu  di setiap suku atau keluarga besar, ada seorang bendahara yang memegang buku untuk mencatat setiap pemberian dari orang-orang yang diundang ataupun dari kerabat keluarga lainnya. Catatan ini bukan sekedar untuk penjumlahan dan perhitungan untung rugi tetapi terutama berfungsi sebagai acuan untuk kelak membalas jasa mereka dengan pembawaan yang sepadan ketika mereka dilanda atau mereka mengadakan suatu acara. Inilah fenomen budaya balas jasa.

 

Pengaruhnya terhadap Panggilan saya

Bagi saya, pemberian yang tulus patut diterima tetapi tidak berarti pemberian saya hanya kepada mereka yang pernah memberi untuk saya. Untuk saya memberi adalah suatu perbuatan terpuji karena memberi hingga tingkat merasa sakit merupakan suatu keutamaan sebagai calon imam.

 

 

  1. Keluarga, Budaya dan Menjadi Imam

Saya tidak menjadi imam menurut kehendak keluarga dan budaya saya. Saya menjadi imam karena niat suci saya dan itu pun kalau Tuhan berkenan. Saya pun tidak menjadi imam untuk keluarga dan budaya karena saya bukan imam keluarga, saya imam Tuhan.

Keluarga dan budaya adalah pendukung tetapi bukanlah mereka yang kelak menjadi imam. Karena itu segala nasehat dan kebiasaan yang baik saya petik hikmahnya tetapi segala propaganda yang bertendensi mengacaukan, saya sama sekali tidak berminat dan tidak simpatik sedikitpun dengan kebiasaan seperti itu.

 

 

EVALUASI DAN REFLEKSI TAHUN ORIENTASI PASTORAL

 (2016-2017)

 

  1. INDAHNYA MASA TOP

Masa TOP merupakan momen yang paling indah. Indah bukan karena tempat TOP sesuai dengan keinginan saya tetapi pertama-tama indah karena dalam momen ini, saya mendapat banyak kesempatan untuk belajar.  Masa TOP adalah kesempatan untuk belajar karena itu segala macam kekeliruan dan  kesalahan yang saya lakukan dalam menjalankan tugas boleh dikatakan wajar. Hemat saya, kekeliruan dan kesalahan  dalam proses belajar adalah langkah-langkah menuju kematangan. Sebagaimana ada peribahasa bijak bahwa puncak bukit mengilhami, lembah-lembahlah yang mendewasakan.

Masa TOP menjadikan saya lebih dewasa dan lebih bersentuhan secara nyata dengan realitas. Banyak teori, pembinaan dan pendidikan yang telah dipelajari dan dihayati kini saatnya untuk dipraktekkan. Ilmu Filsafat dan Ilmu Teologi yang telah digeluti semasa kuliah, pembinaan dan pedidikan yang diperoleh sebagai Calon Imam di Lembaga Pendidikan Calon Imam (Seminari Tinggi Santo Mikhael) adalah modal yang kuat dalam mencermati situasi lingkungan masa TOP.  Apalagi saya  menjalankan masa TOP di Lembaga Pendidikan, tentunya segala ilmu dan pembekalan yang diperoleh, dengan segala cara diusahakan untuk disampaikan secara sederhana.

Saya menyadari bahwa masa TOP ini menjadi sangat berarti karena setiap tugas yang dilaksanakan senantiasa dipandang sebagai momen persiapan diri kelak menjadi imam Tuhan. Dan momen ini menjadi momen penuh rahmat karena iman akan Tuhan justeru menjadi kekuatan dasar dan kekuatan utama untuk menyelami masa TOP ini.

 

  1. TUGAS-TUGAS YANG DIPERCAYAKAN KEPADA SAYA

Tugas Utama :

Sejak tiba di SMK, Rm. Vinsent memandatkan dua TUGAS UTAMA yakni di sekolah, beperan sebagai guru untuk mengajar, mendidik, membina dan membimbing serta di asrama, berperan sebagai bapak asrama untuk mendampingi anak-anak asrama putera. Dua tugas ini merupakan medan pastoral kami. Dalam tugas ini, saya diuji untuk mengabdi dengan tulus demi perkembangan iman dan pengetahuan anak-anak.

 

Di Sekolah : Sebagai Guru untuk Mengajar, Mendidik, Membina, Membimbing dan Mendampingi

Sejak tiba di SMK setelah melalui sidang dewan guru, saya dipercayakan untuk mengasuh Mata Pelajaran Seni Budaya untuk kelas X-XI, dan juga menjadi wali kelas untuk kelas X ATR A (sekarang kelas XI ATR A). Cukup sulit,  karena apa yang saya ajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Terutama yang paling memberatkan adalah terkait dengan segala macam perangkat  mengajar. Walaupun demikian, saya tetap berusaha semampu saya untuk menjalankan tugas ini dengan mengerahkan segala macam kemampuan dan keterampilan yang saya miliki dalam bidang seni. Saya berusaha membaktikan diri saya dalam terang iman. Karena hemat saya, iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman menuntut perbuatan, dan perbuatan yang saya lakukan itu adalah mengajar, mendidik, membina, mendampingi dan membimbing. Segala aktivitas yang saya lakukan ini, senantiasa saya lakukan sebagai perwujudan iman kepada Allah.

Banyak hal saya belajar dari rekan-rekan guru. Saya belajar banyak dari mereka terutama dari Rm. Vinsent sebagai Kepala Sekolah yang senantiasa menegaskan tentang budaya persiapan sebagai seorang guru demi mencapai status guru yang kompeten dan profesional. GURU berarti di GUgu dan ditiRU.

Terkait dengan tugas mengajar ini, seringkali saya merasa jenuh. Walaupun demikian, rasa cinta akan tugas mampu menghalau kejenuhan ini. Ketekunan yang telah lama ada dalam diri saya tetap menggerakkan saya untuk selalu mempersiapkan sesuatu demi aktivitas mengajar yang tidak membosankan. Seringkali saya menggunakan cerita-cerita inspiratif untuk kembali membangkitkan semangat mengajar dan menghidupkan situasi saat mengajar.

   Di Asrama : Mendampingi Anak-Anak

Cukup berat menjalankan tugas pendampingan. Mendampingi berarti selalu di samping anak-anak ketika mereka menjalankan aktivitas di asrama dan segala aktivitas yang melibatkan anak-anak asrama. Awalnya, saya menggunakan cara saya yang biasa santai tapi pasti agar mereka bergerak dari kesadaran mereka sendiri. Dengan keyakinan bahwa lebih baik 50 orang tertib karena sadar daripada 100 orang tertib karena takut atau karena dipaksakan. Sebagai akibat dari konsep saya ini, banyak kali saya terkesan  dinilai malas tahu atau bahkan dinilai tidak tanggap melihat dan mengatasi situasi. Walaupun konsep ini tidak salah tetapi refleksi pembenahan diri tetap dilakukan dari waktu ke waktu, bahwa dalam sebuah pendampingan, penekanan berlebihan pada kesadaran diri setiap anak bimbingan akan jatuh pada adanya “kesan pembiaran”.

Dari hasil refleksi yang didalami dari waktu-waktu, dikuatkan lagi oleh catatan-catatan kritis dari Pembimbing TOP (Rm. Vinsent Manek Mau, Pr), saya senantiasa berbenah diri untuk lebih fokus lagi dalam pendampingan. Segala pemahaman, keteladanan, perasaan kasih sayang selalu diberikan kepada anak-anak. Segala aktivitas yang dilakukan demi anak-anak sungguh dilakukan dengan prinsip fokus.

Terkadang, akibat tindakan mereka yang berlebihan, kekerasan mental dan kekeran fisik sering dipakai dengan tujuan agar mereka menjadi sadar atau bahkan (takut) untuk melakukan kesalahan dan menjadi semakin tertib. Walaupun demikian, refleksi senantiasa menyusul bahwa kekerasan dalam bentuk apapun tidak pernah menyelesaikan masalah bahkan menciptakan dalamnya rasa dendam atau justeru menimbulkan masalah baru.

Rasa jenuh pun seringkali menghantui saya karena setiap hari selalu berhadapan dengan aktivitas dan orang-orang yang sama. Dalam keadaan seperti ini, kreativitas pun tidak mati. Berhadapan dengan kegiatan-kegiatan dan situasi-situasi yang sama ini, saya selalu berusaha menerapkan cara-cara atau pendekatan yang berbeda-beda.  Walaupun cara-caranya praktis tetapi nilai-nilainya besar.

 

Adapun tugas-tugas lain yang dalam koordinasi yang baik, saya berusaha untuk laksanakan:

  1. Bendahara Asrama Putera-Puteri SMK

Saya dipercayakan selama satu tahun sebagai bendahara Asrama Putera-Puteri. Tugas ini memang berat selain karena tidak memiliki keterampilan yang khusus dalam administrasi dan pengelolaan keuangan tetapi juga karena daya tahan menangkal godaan uang. Seringkali rasa belas kasih berlebihan membuat saya kurang tegas dalam pengeluaran keuangan. Beberapa kali saya secara pribadi menggunakan sedikit uang untuk kepentingan pribadi dan untuk anak-anak walaupun setelah itu digantikan kembali. Walaupun demikian, refleksi tetap berjalan untuk tidak jatuh dalam kekeliruan yang sama.

 

  1. Koordinator Alat-Alat Musik

Tiba di SMK, dalam koordinasi yang baik bersama dengan Kepala Sekolah dan Pengelola Dana BOS, banyak alat musik dan alat sound yang diadakan atas usulan saya. Misalnya gitar, stil elektronik, genderang, giring-giring, alat pengeras suara. Terhadap alat-alat yang telah ada ini, saya dipercayakan untuk bertanggung jawab. Seringkali, oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, alat-alat ini mengalami kerusakan, saya selalu berusaha untuk perbaiki.

 

  1. Melatih Koor dan Musik

Pengembangan minat anak-anak dalam bernyanyi dan memainkan alat musik pun diberi perhatian. Dalam kerja sama dengan beberapa rekan guru, terhadap anak-anak dilatih untuk bernyanyi dan memainkan alat musik.

 

  1. Merintis Majalah SMK Katolik St. Pius X Insana “Ora et Labora”

Sejak tiba di SMK, saya berinisiatif untuk merintis Majalah SMK Katoltik St. Pius X Insana. Niat ini, saya konsultasikan dengan Kepala Sekolah dan disampaikan dalam sidang dewan guru. Segala kemampuan dalam bidang menulis, saya bagikan untuk anak-anak, saya membimbing mereka dan akhirnya majalah itu pun terbit dengan nama Majalah Ora et Labora.  Menjadi satu kebanggaan khusus adalah atas terbiatan Majalah ini, Bapak Uskup Atambua (Mgr. Dominikus Saku, Pr), menyumbangkan dana berjumlah Rp. 5.000.000, untuk urusan penerbitan selanjutnya. Dan puji Tuhan, Majalah ini kini telah diterbitkan edisi kedua. Terhadap penerbitan Majalah ini, saya bertanggung jawab penuh untuk merekrut penulis, mengedit tulisan, layout sampul, tata letak dan desain model tulisan.

 

  1. Memimpin ibadat entah pada hari Minggu di tempat pelayanan Paroki Qiupukan maupun ibadat lainnya

Tugas memimpin ibadat inipun banyak kali dipercayakan oleh Pastor Paroki dan pastor rekan. Tugas-tugas inipun turut membahagiakan karena pada saat ini saya bertemu langsung dengan umat dan tokoh-tokoh umat. Momen pertemuan ini banyak kali memberikan pelajaran yang sangat berarti untuk panggilan saya. Banyak kali, saya dihubungi secara mendadak oleh pastor untuk memimpin ibadat. Saya selalu mengatakan siap dengan keyakinan bahwa bukan dengan kekuatan saya, saya memimpin ibadat melainkan dengan kekuatan Roh Kudus, saya dimampukan untuk memimpin ibadat.

 

  1. Membawakan Renungan

Renungan-renungan yang saya bawakan entah dalam memimpin ibadat maupun terhadap beberapa kelompok kategorial, semakin menantang saya untuk mempersiapkan diri kelak menjadi imam. Banyak kali saya mendapat pujian, setiap kali seusai renungan. Pujian-pujian ini tentunya makin menguatkan saya tetapi saya tidak sombong dengan itu dengan keyakinan bahwa bukan diri dan kemampuan saya yang saya wartakan melainkan nama Tuhanlah yang saya wartakan. Dan hemat saya, renungan-renungan yang saya bawakan, makin menggugah hati umat yang mendengar justeru karena Tuhan dan segala karya-Nya yang diwartakan.

 

  1. Menciptakan lagu Mars SMK Katolik, Lagu gembira OSIS SMK dan Lagu Mars Alumni SMK dan beberapa lagu Liturgi

Dengan sedikit kemampuan yang ada, saya berusaha untuk merintis pula lagu-lagu. Setelah berkoordinasi dengan Rm. Vinsent, terutama terkait dengan syair-syair lagu yang sesuai dengan visi-misi SMK, saya merintis beberapa lagu sebagaimana disebutkan di atas. Lagu-lagu inipun telah dinyanyikan oleh anak-anak.

 

  1. Membawakan pembekalan-pembekalan kepada anak-anak terkait dengan masa-masa liturgi

Pembekalan atau pendalaman iman tentang masa-masa khusus liturgi dilakukan bersama dengan anak-anak. Walaupun sering lalai karena adanya kesibukan lain entah dari sekolah maupun dari asrama.

 

  1. Merintis Doa atau Devosi Khusus Untuk Pelindung SMK yakni St. Pius X

Devosi terhadap St. Pius X berhasil disusun dalam koordinasi dengan Rm. Vinsent. Syair-syair doa ini didaraskan setiap hari sebelum atau seusai misa pagi. Saya secara pribadi menjalankan spiritualitas St. Pius X terutama tentang perhatiannya kepada kaum miskin. Rumusan yang paling menyentuh saya adalah mengikuti wasiat dari St. Pius X yakni saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin dan ingin mati secara miskin pula. Rumusan ini senantiasa saya refleksikan dan saya hayati dalam hidup sehari-hari.

 

  1. Pengembangan Akademik
  2. Mengakomodir dan Melatih Anak-Anak Untuk Menulis

Saya berusaha melatih mereka tidak hanya dengan teori semata tetapi dengan menunjukkan tulisan-tulisan saya dan mereka pun langsung menulis. Mungkin karena gaya ini yang dipakai sehingga majalah SMK berhasil diterbitkan.

 

  1. Melatih Anak-Anak Untuk Menjadi MC, Orator, dan Berdiskusi

Setiap kali saya memberikan pelajaran, saya selalu mengisihkan waktu untuk memberikan tips-tips menjadi MC, menajdi Orator dan bagaimana teknik berdiskusi secara ilmiah. Bahkan di kelas di mana saya menjadi wali kelas, mereka diberi kesempatan untuk praktek MC, Orator dan berdiksusi.

 

  1. Menyelenggarakan perlombaan : Kuis Kitab Suci, Kuis tentang Maria, Lomba Menyanyi, Menari, Lomba Pidato

Dalam kerja sama dengan pembina OSIS dan Wakasek kesiswaan, banyak lomba diselenggarakan sebagai moment untuk mengekspresikan kemampuan peserta didik.

 

  1. Melatih anak-anak untuk menari, bermain musik dan bermain drama

Untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang seni, menari, bermain musik dan bermain drama pun dilakukan. Beberapa tarian daerah selalu kami latih bersama-sama yakni tarian tebe, bidu, likurai dan tarian pangan.

 

  1. Memberikan Motivasi Tentang Organisasi dan Kepemimpinan Bagi Pengurus OSIS

Kegiatan pembekalan terhadap pengurus pun beberapa kali dilakukan. Beberapa kalimat bijak yang senantiasa saya sampaikan kepada mereka adalah Ingat : Kepemimpinan yang sebenarnya bukanlah jabatan melainkan tindakan. Salah satu rahasia keberhasilan dalam memimpin adalah katakan kepada mereka bahwa mereka juga pemimpin. Memimpin membutuhkan integritas diri. Puncak bukit mengilhami setiap kita, tetapi lembah-lembahlah yang mendewasakan kita. Kita menjadi dewasa dalam memimpin karena kita menunjukkan keteladanan dalam memimpin.

 

  1. Merintis makan bersama di SMK

Kami bersama-sama, berpikir bersama untuk menciptakan situasi makan bersama bagi anak-anak SMK yang tinggal di asrama entah putera maupun puteri. Terhadap kebijakan ini, banyak kali di kelas atau saat rapat para pendamping asrama, saya selalu mengatakan landasar yang kita pakai untuk makan bersama ini adalah prinsip solidaritas dan prinsip subsidiaritas. Melalui makan bersama, kita dibina menerima kenyataan apa adanya dan lebih dari itu kita membantu mereka yang bekekurangan atau bahkan tidak ada. Rasa kepedulian terhadap sesama, ditunjukkan melalui bersikap mengambil sesuatu yang merupakan porsi kita. Sebab jika kita mengambil lebih, yang lain otomatis kekurangan. Untuk mendukung kebijakan ini, kami bekerja sama untuk menyediakan segala fasilitas yang diperlukan (meja-bangku), sebagai sarana untuk makan bersama dan belajar bersama.

 

  1. REFLEKSI SAYA TERHADAP TUGAS DAN KEGATAN-KEGIATAN DI ATAS

Sesungguhnya kegiatan-kegiatan di atas bukanlah sebuah pameran keberhasilan karena hebat. Sebab hemat saya jika konsep ini terlalu kuat maka akan jatuh pada kesombongan. Dan ketika kesombongan menjadi raja dalam diri seseorang pada akhirnya segala kreativitas yang ada dalam diri akan mati karena kesombongan itu sendiri.

 

Rahasia ampuh dalam mengabdi dan menjalankan tugas-tugas tersebut adalah

  1. Rohani

Doa pribadi, brevir, mengkuti perayaan ekaristi dan kegiatan rohani lain seperti salve, ziarah adalah kekuatan utama dalam menjalankan tugas-tugas ini. Saya mengalami bahwa kurangnya rohani berimbas pada segala kegiatan terlaksana tidak efektif. Kegiatan yang hendak saya lakukan atau setelah dilakukan, selalu saya persembahkan dalam doa pribadi. Sampai saat ini, devosi pribadi yang selalu saya lakukan adalah devosi kepada Bunda Maria. Devosi ini telah sekian lama saya laksanakan sejak masih di Seminari Menengah.

 

  1. Rasa Memiliki Tugas

Apapun pekerjaan yang dipercayakan kepada saya selalu saya laksanakan dengan tulus tanpa perhitungan keuntungan material apapun. Walaupun terkadang saya merasa seperti bekerja sendiri tetapi saya akui bahwa perasaan mencintai tugas memampukan saya untuk bekerja dengan membangun koordinasi seperlunya. Sekalipun ada komentar dari rekan-rekan lain, saya mendengar tetapi sama sekali tidak menjadi penghambat untuk semangat saya. Untuk saya, lebih baik mencitai tugas daripada membuang waktu untuk tersinggung dengan komentar yang datar nilainya.

 

  1. Kemauan-Ketekunan

Sejak awal, saya membangun komitmen pribadi bahwa apa yang telah saya cita-citakan harus terlaksana. Kendati pun ada tantangan entah datang dari dalam maupun dari luar, saya selalu berusaha berpikir positif untuk mengubah tantangan yang ada menjadi peluang. Berpikir positif bukan berarti mengubah yang buruk menjadi baik, karena itu sama saja dengan menipu. Berpikir positif berarti mengambil langkah untuk melihat sesuatu yang baik dari setiap kekeliruan atau kesalahan. Berpikir postif berarti berani mengatakan mana yang salah untuk dihindari dan mana yang benar untuk diikuti. Ketekunan yang telah ada dalam diri saya merupakan kekuatan dalam mengerjakan setiap tugas. Kalaupun terjadi kekeliruan, kekeliruan itu tidak mampu menghalau rasa ketekunan saya.

 

  1. Komitmen

Dalam setiap tugas, khususnya dalam pendampingan anak-anak di asrama, saya berusaha untuk membangun komitmen pribadi. Terhadap kekeliruan dan kesalahan yang mereka lakukan, sanksi tetap berjalan sebagaimana disepakati bersama. Komitmen pribadi ini mengantar saya untuk adil dalam mengambil kebijakan dan tidak pilih kasih dalam kehidupan sehari-hari dengan mereka. Untuk saya komitmen tidak harus mengantar saya untuk terlalu cepat mengambil tindakan sehingga jatuh dalam posisi gegabah. Komitmen juga nilainya kecil jika muncul sebagai sikap munafik atau sebagai sikap mencari popularitas diri.

 

  1. Koordinasi

Saya belajar banyak hal dari Rm. Vinsent terkait dengan bagaimana membangun koordinasi yang baik ketika hendak melakukan suatu kegiatan. Saya menyadari bahwa koordinasi macet sebuah kegiatan atau persoalan yang dihadapi akan makin membesar.

 

  1. Taat

Saya selalu berusaha untuk taat terhadap pimpinan dan taat untuk melaksanakan tugas. Walaupun demikian, sikap munafik selalu saya hindari dalam menjalankan setiap tugas. Untuk saya sikap munafik ini adalah suatu kebodohan. Sebab sikap munafik akan mengantar orang pada taat buta. Hal ini demi menghindari apa yang disebut sebagai taat buta. Hemat saya ketaatan itu tidak buta. Ketataan itu memiliki mata. Ketaatan adalah buah yang matang dari kebebasan.

 

  1. Rendah Hati

Rendah hati bukan berarti rendah diri. Rendah hati juga tidak berarti diam ketika berhadapan dengan suatu persoalan yang seharusnya membutuhkan sikap angkat bicara.

Rendah hati berarti tahu cara yang etis ketika berhadapan dengan orang lain dan ketika menyikapi suatu peristiwa atau masalah. Saya yakin bahwa sikap ini adalah sikap yang paling ampuh dalam membangun pergaulan sosial. Saya tidak pernah merasa sombong dengan segala macam talenta yang saya miliki dalam diri. Sebab saya yakin bahwa kemampuan akan bertambah-tambah jika dijiwai oleh sikap kerendahan hati.

 

  1. Tanggung Jawab

Tanggung jawab berarti siap menanggung apa yang telah dijawab. Banyak kegiatan terkhusus dalam pendampingan minat dan bakat anak-anak, saya berusaha semampu saya untuk mendampingi mereka. Saya bertanggung jawab demi mereka atas apa yang telah saya dapatkan dengan cuma-cuma. Terhadap kegiatan-kegiatan yang saya dampingi, saya tidak pernah merasa beban. Bahkan saya melihat banyaknya tugas sebagai peluang besar untuk belajar. Tanggung jawab ini benar tulus karena tergerak dari kehendak bebas. Tanggung jawab adalah buah dari kebebesan. Bebas dalam arti bebas dari segala macam tekanan dan bebas untuk melakukan setiap kegiatan. Tanggung jawab ini mengantar pada prioritas nilai sehingga kebebasan tidak semena-mena dihayati tanpa nilai yang mau dikejar.

 

  1. SIFAT DAN BAKAT KEPEMIMPINAN

Semasa menjalankan kuliah filsafat dan pembinaan di Seminari Tinggi Santo Mikhael, saya mendapat banyak kesempatan untuk memimpin. Kesempatan ini sungguh mengasah bakat memimpin yang ada dalam diri saya.

Prinsip yang selalu saya pakai dalam memimpin adalah Tegas dalam prinsip dan halus dalam cara. Mungkin karena sikap ini yang saya pakai maka saya sungguh merasakan betapa anak-anak dan rekan-rekan guru sungguh dekat dengan saya dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. PERGAULAN-RELASI SOSIAL

Dalam Hidup Komunitas

Saya merasakan sungguh betapa akrabnya kami dalam hidup komunitas. Saya mengalami situasi makan bersama merupaka momen yang indah untuk melepaskan segala ketegagnan entah di sekolah maupun di asrama.

Dalam kehidupan sehari-hari pun segala sesuatu selalu berjalan baik. Seringkali ada sikap yang tegas bahkan ada pernyataan yang sifatnya keras entah datang dari para pastor maupun dari Mgr. Anton, saya selalu menghadapi dengan sikap tenang. Karena hemat saya, ini bukan soal mau menang atau mau kalah tapi soal mau belajar atau tidak.

 

Dengan Rekan-Rekan Guru dan Para Peserta Didik

Saya menyadari bahwa seringkali pernyataan saya yang cukup ekstrim banyak meyinggung hati rekan-rekan guru dan para peserta didik. Walaupun demikian pendekataan untuk tetap akrab selalu saya lakukan. Prinsip yang saya pakai dalam membangun pergaulan adalah pertama-tama prinsip nilai dan yang kedua prinsip relasi. Prinsip nilai adalah yang terutama. Hemat saya, terlalu mengagungkan relasi, prinsip nilai bisa lemah; terlalu berdiri kokoh pada prinsip nilai yang bahkan terlalu ekstrim, relasi bisa tersendat.

 

Dengan Umat pada umumnya

Saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan umat, ketika memimpin ibadat-ibadat. Selain itu juga, mengisi waktu luang saya selalu berkunjung ke rumah-rumah seputar wilayah SMK.

 

Dengan Rekan-Rekan TOP

Rekan-rekan TOP adalah salah satu kekuatan bagi saya. Seringkali melalu tatap muka, melalui sms, telepon dan facebook, kami saling menguatkan entah melalui nasehat maupun melalui kelakar-kelakar.

 

Dengan Lawan Jenis

Saya sendiri mengalami bahwa kemampuan, minat dan bakat yang ada dalam diri saya, telah menarik perhatian banyak orang. Banyak teman wanita, mereka mengungkapkan entah melalui telpon, sms, facebook dan bahkan bertemu langsung. Sebagai pria normal, saya mengalami seringkali anak-anak sekolah khususnya (puteri), mereka melontarkan pernyataan dan menampilkan sikap yang menarik perhatian dan mengganggu konsentrasi. Kenyataan ini adalah suatu kenyataan yang normal dan wajar.  Menurut saya, keliru jika mengatakan bahwa membangun relasi normal dengan lawan jenis itu salah. Dan saya bodoh jika saya membenci lawan jenis untuk menggapai panggilan saya. Panggilan saya memang suci dan justeru karena suci maka kebencian tidak boleh ada di dalamnya.

Saat menjalankan masa TOP, saya memutuskan untuk tidak membangun relasi khusus (pacar) dengan seorang wanita pun. Walaupun saya tahu banyak di antara wanita yang mengagumi saya dan bahkan secara terangan-terangan menghendaki saya. Alasannya adalah Saya tidak mau menjadi milik satu orang sementara posisi saya harus diperuntukkan bagi banyak orang. Saya tidak mau menghidupi situasi yang kontradiktif seperti ini dalam diri saya.

Beberapa pengalaman bersama dengan tiga orang wanita khususnya dalam masa TOP tahun kedua ini, walaupun dalam waktu yang berbeda-beda, mereka secara terang-terangan menghendaki saya. Saya bahkan diajak untuk keluar frater agar dapat hidup menikah. Ajakan ini memang mengganggu, tetapi konsentrasi untuk panggilan saya jauh lebih kuat. Walaupun mereka selalu bersikap demikian, tetapi saya selalu membangun relasi yang akrab dengan mereka dengan memahami poisisi mereka. Saya memahami posisi mereka bukan dengan menjanjikan sesuatu tetapi dengan menjelaskan posisi saya dan posisi mereka. Ini benar mengganggu tetapi sikap saya tetap bahwa menjadi imam adalah harga mati. Sekali bercita tetaplah cita-cita itu.

 

  1. KEHIDUPAN DOA-ROHANI

Doa Pribadi

Doa pribadi selalu saya lakukan setiap hari entah di kapela, di kamar maupun setiap kali hendak melakukan perjalanan atau hendak melakukan suatu kegiatan. Saya pun memiliki devosi pribadi kepada Bunda  Maria  sejak Masih di Seminari Lalian hingga sekarang.

 

Brevir

Saya mengakui bahwa khususnya pada siang hari dan pada sore hari banyak kali saya tidak menjalankan doa brevir. Pada pagi hari pun sering kali lalai mendaraskan doa brevir  entah di kapela maupun di kamar. Seringkali sibuk dengan aktivitas mengurus anak-anak, mengajar dan mendampingi kegiatan pengembangan minat dan bakat, rasa-rasanya kehilangan waktu untuk menciptakan keheningan. Kondisi inipun tidak membuat saya terlena. Seringkali saya melaksanakan meditasi pribadi entah di kamar maupun di kapela.

 

Perayaan Ekaristi

Selama ini saya selalu mengikuti perayaan ekaristi. Seringkali lambat bangun pun saya selalu berusaha untuk mengikuti perayaan ekaristi.

 

Salve

Kegiatan salve selalu saya ikut. Momen suci ini banyak memberikan insipirasi bagi saya untuk makin tekun dan fokus pada kegiatan bersama anak-anak.

 

Doa Komunitas

Doa komunitas kami lakukan bersama di kapela pribadinya  Mgr. Anton. Seringkali karena kesibukan kami masing-masing, doa komunitas ini tidak berjalan. Meskipun demikian, kenyataan ini tidak menjadi batu sandungan bagi kerohanian saya.

 

 

  1. DISIPLIN DIRI

Saya sendiri menyadari bahwa seringkali tidak disiplin khususnya tepat waktu dalam mengajar dan megikuti misa pagi. Walaupun demikian, kesadaran ini sama sekali tidak membiasakan untuk merasa nyaman dengan sikap ini.

 

  1. DUKUNGAN KELUARGA

Keluarga inti saya, nenek, bapak, mama, kakak dan adik serta semua keluarga besar, saya sungguh merasakan bentuk dukungan mereka. Saya mengalami dukungan mereka melalui nasehat, dukungan moril dan material. Walaupun demikian, saya tidak ingin menjadi imam untuk menyenangkan hati mereka atau untuk memenuhi dukungan mereka. Saya tahu, mereka mendukung saya tetapi saya yang menjalani masa pembinaan ini. Dan biasanya kepada mereka saya selalu mengatakan bahwa benar saya dengan tulus ingin menjadi imam. Karena alasan ketulusan ini, seringkali saya berbicara ekstrim kepada mereka, kalau ada dukungan dalam bentuk pemberian material yang tidak tulus sebaiknya tidak boleh memberi.

  1. EFEKTIFITAS DALAM MENGGUNAKAN WAKTU LUANG

Kalau ada waktu luang (tidak ada jadwal mengajar), ada waktu luang pada sore dan malam hari, selalu saya pakai untuk membaca dan menulis dan bahkan melatih diri untuk berpidato dan berkothbah. Hingga kini saya masih memiliki kebiasaan tiada hari tanpa membaca dan menulis.

 

  1. PENGEMBANGAN BAKAT DAN KEMAMPUAN

Saya memiliki kebiasaan yang telah lama ada, yakni tiada hari tanpa membaca dan menulis. Saya merasakan minat dan bakat saya berkembang khsususnya dalam bidang seni musik. Karena ketekunan yang besar dan kemauan yang kuat, saya mampu bermain gitar, mampu bermain keyboard mampu bernyanyi dan mampu menggubah beberapa lagu termasuk juga beberapa lagu liturgi.

 

  1. KEUANGAN-FINANSIAL (BAGAIMANA CARA PENGGUNAANYA)

Penggunaan keuangan khususnya tentang administrasi keuangan pribadi atau buku kas, dengan jujur saya katakan bahwa kebiasaan itu tidak berjalan. Walaupun demikian, nota-nota pribadi setiap kali pembelanjaan pribadi selalu saya simpan. Saya mengakui bahwa saya adalah tipe orang belas kasih khususnya dalam pengelolaan keuangan. Karena itu dengan sangat jujut saya mengkaui bahwa tipe macam saya, tidak cocok menduduki jabatan bendahara. Bukan karena banyak uang umum masuk saku pribadi tetapi karena rasa belas kasihan yang berlebihan, banyak kali uang umum saya berikan untuk mereka yang mengeluh berkekurangan dan sebagai akibatnya beberapa kali saya sendiri kembali menggantikan.

 

  1. EVALUASI SAYA TERHADAP GAYA PEMBIMBINGAN DALAM MASA TOP

Saya sangat bersyukur memiliki Pembimbing TOP (Rm.Vinsent Manek Mau, Pr.). Beberapa sikap beliau yang sangat saya kagumi adalah sikap tegasnya dalam membimbing. Saya belajar  dari beliau tentang bagaimana mendahulukan pertimbangan dan koordinasi sebelum melakukan sesuatu. Saya juga belajar tentang bagaimana menghadapi situasi atau persoalan atau menghadapi sikap orang tertentu dengan cara dan pada waktu yang tepat. Walaupun seringka kali beberapa sikap dari beliau yang tidak perlu diikuti adalah keputusan sering kali berubah-ubah sehingga tidak memberikan kepastian bagi kita dalam mengerjakan tugas dan kegiatan yang mau dilakukan.

Saya sangat bersyukur menjalani masa TOP dan hidup bersama-sama dengan Mgr. Anton Pain Ratu, SVD. Banyak nasehat dan catatan kritis dari beliau meneguhkan saya.

 

  1. KESIMPULAN

Masa TOP adalah masa persiapan diri. Masa TOP adalah masa untuk belajar. Masa TOP adalah kekuatan kelak menjadi imam. Masa ini adalah masa persiapan menuju imamat karena segala aktivitas yang dilakukan haruslah merupakan jalan menuju ke sana. Nasehat ini selalu datang dari pembimbing TOP yakni Rm. Vinsent Manek Mau, Pr.

Beberapa kali, pada awal masa TOP, kalau saya mengingat akan segala kemampuan yang saya miliki, dengan sikap yang terlalu cepat, seringkali saya bersikap tidak peduli. Setelah saya menyadari, ternyata kebiasaan ini tidak perlu dipertahankan. Saya tidak mau mempertahankan kebiasaan ini karena saya tidak mau memupuk sikap kesombongan yang kelak akan membiasakan saya untuk menghayati sikap kesombongan religius kelak menjadi imam nanti.

Satu prinsip sederhana yang selalu saya pakai adalah kalau saya (calon imam) mau menjadi imam, saya harus mendengar apa yang dikatakan oleh seorang imam, taat pada seorang imam mengikuti teladan hidup seorang imam. Dan benar bahwa memang satu-satunya cita-cita saya sejak dulu hingga sekarang adalah ingin menjadi imam; tidak hanya menjadi imam tetapi menjadi imam yang baik. Menjadi imam yang taat untuk Uskup dengan menghayati tiga nasehat injili yakni ketaatan, kemiskinan dan kemurnian.

 

  1. UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima saya sampaikan kepada :

  1. Bapak Uskup Atambua (Mgr. Dominikus Saku, Pr), yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjalankan masa praktek orientasi pastoral di SMK Katolik St. Pius X Insana.
  2. VikJen Keuskupan Atambua (Rm. Theo Asa Siri, Pr.), melalui setiap pertemuan, keramahan beliau turut membentuk sikap saya selama masa TOP.
  3. Yustus Ati Bere, Pr, sebagai moderator frater TOP yang memberikan banyak nasehat yang menguatkan saya.
  4. Vinsent Manek Mau, Pr, yang telah membimbing saya selama masa TOP.
  5. Yerem Seran, Pr., Rm. Yunus Bouk, Pr dan juga untuk Frater Yogar Fallo, yang dengan cara mereka masing-masing membuat saya makin dewasa dalam menjalan tugas yang tanggung jawab yang diberikan kepada saya selama masa TOP.
  6. Rekan-rekan guru SMK yang dengan cara mereka pula, saya turut belajar dan makin dewasa.
  7. Para peserta didik SMK, dalam setiap sendau gurau, membentuk kematangan emosional saya.

 

  1. KEPUTUSAN PRIBADI

Setelah melalui masa TOP disertai dengan refleksi yang mendalam, dengan niat hati yang suci dan tulus, tanpa paksaan dari siapapun, dan dengan berbagai dukungan yang datang dari berbagai pihak, SAYA MEMUTUSKAN UNTUK MELANJUTKAN STUDI DAN PEMBINAAN DI SEMINARI TINGGI SANTO MIKHAEL PENFUI KUPANG, AGAR KELAK MENJADI IMAM TUHAN YANG BAIK.

 

 

 

Refleksi Untuk Tiga Nasehat Injili

 

Ketaatan

Bagi saya ketaatan itu tidak buta. Ketaatan memiliki mata. Ketaatan adalah buah yang matang dari kebebasan. Taat untuk pemimpin bukanlah suatu taat buta. Sebab ketaatan jenis ini hanya melahirkan manusia robot yang bergerak ketika digerakkan. Taat yang tulus termasuk di dalamnya inisiatif untuk memulai sesuatu.

Saya harus taat supaya dengan itu, saya hanya mengakui Yesus Kristus sebagai satu-satunya pemimpin dan penyelamat dunia.

Di antara kedua ketiga nasehat injili lainnya, ketaatan besar pengaruhnya. Jika saya taat maka kemurnian dan kemiskinan otomatis. Demikian juga, jika saya taat karena takut atau taat munafik, ketaatan jenis ini akan mudah mencuat keluar sebagai masalah.

 

Kemiskinan

Yesus dilahirkan di kandang nan hina, supaya dengan itu saya belajar dan menghidupi kemiskinan sebagai keutamaan. Tentunya kemiskinan yang dimaksudkan adalah kemiskinan motif motif religius. Ini berarti bukan materi tidak penting tetapi bahwa materi adalah sarana untuk menggapai misi pewartaan dan pelayanan. Materi bukanlah tujuan, materi adalah sarana. Karena sarana, maka materi dibutuhkan secukupnya dan seperlunya.

Miskin tidak berarti melarat. Miskin tidak berarti romol. Miskin tidak berarti harus kikir. Miskin tidak berarti hanya bergaul dengan mereka yang kaya. Miskin adalah keutamaan, karena itu  mesti dihayati dengan bebas sebagai perbuatan iman.

 

Kemurnian

Kenajisan bukanlah sesuatu yang datang dari luar melainkan datang dari dalam. Kebencian yang meliliti hati seseorang dalam pelayanan dan pewartaan adalah suatu fakta yang menunjuk pada hati yang tidak murni.

Dalam kaitannya dengan hidup seksual (hidup selibat), kemurnian merupakan suatu persembahan diri yang utuh dan tulus kepada Allah. Persembahan diri yang utuh ini pun menyimpan tuntutan susila untuk tidak menodai tubuh dengan tindakan atau perilaku seksual entah dengan lawan jenis, sesama jenis maupun dengan diri sendiri. Bahwa kemurnian bukanlah suatu penyangkalan terhadap nafsu manusiawi, dan justeru karena itu, di sinilah ketulusan dan ketataan diuji. Pilihan menjadi imam pun bukanlah suatu obat untuk menghilangkan atau bahkan mematikan daya dorong seksual. Sebab seringkali daya dorong seksual ini jika dikelola secara baik, kita akan segera sadar bahwa keperkasaan yang sesungguhnya adalah keperkasaan demi Allah dan di hadapan Allah.

Kemurnian dengan motif religius ini pun bukanlah pintu untuk membenci wanita. Menghayati kemurnian ini pun bukanlah suatu pelarian demi mengamankan diri dari tantangan hidup berkeluarga.

Ada ungkapan bahwa kain slaber yang kotor tidak akan efektif membersihkan lantai. Malah makin memperparah kekotorannya. Inilah sekiranya bahwa sebagai pewarta Sabda dan pelayan Sakramen, Karya Allah akan sungguh kelihatan, jika seorang pewarta dan pelayan, murni dalam hidup, karya dan kesaksiannya imannya.

 

Visi-Misi dan Motto

 

  1. Visi

Menjadi Imam Tuhan yang unggul dalam bidang filsafat, teologi, moral dan penghayatan kerohanian dalam pelayanan sakramen dan pewartaan sabda dengan dasar utama iman akan Kristus dan membangun persaudaraan yang rukun dengan sesama.

 

  1. Misi
  2. Menekuni ilmu filsafat, teologi, moral dan ilmu pastoral lainnya sebagai kekuatan untuk mewartakan sabda dan melayani sakramen
  3. Mempelajari dan membathinkan ajaran-ajaran Gereja sebagai pijakan untuk melayani sakramen dan mewartakan sabda
  4. Meningkatkan kerohanian dan kesaksian moral dalam hidup dan karya sebagai imam Tuhan.
  5. Menunjukkan keunggulan hidup dan karya sebagai semangat keberiman terhadap Kristus sebagai gembala utama.
  6. Membangun persaudaraan yang rukun dengan sesama sebagai kekuatan dalam megembangkan karya pastoral.

 

  • Motto

…Diam bersama dengan rukun (Mazmur, 133:1).

 

 

REFLEKSI TERHADAP MOTTO

Diam Bersama dengan Rukun (Mazmur 133:1)

 

Mengapa saya memilih motto ini?

Saya secara pribadi sungguh mengalami sentuhan Kristus sebagai Tuhan dan saudara melalui kerukunan bersama dengan orang tua, keluarga, guru-guru dan anak-anak sekolah (di medan TOP), para frater, para pembina dan semua orang yang pernah saya menjumpai mereka.

Saya pun mengalami bahwa hidup rukun merupakan suatu pola hidup yang membahagiakan. Dengan mengikuti keteladan hidup Paus Yohanes XXIII terutama dengan merenungkan pernyataannya bahwa “Ketika kedamaian bertakhta dalam sanubari seseorang, yang lainnya hanyalah merupakan konsekuensinya”.

Bagi saya, hidup rukun merupakan suatu sikap iman yang nyata. Rukun mengandaikan cinta kasih yang terpancar dari lubuk hati terdalam. Kerukunan tanpa kasih yang nyata terhadap saudara merupakan suatu penyangkalan terhadap Kristus sebagai Tuhan dan saudara. Bagaimana mungkin saya mengatakan beriman kepada Tuhan sementara saya membenci saudara saya. Bagaimana mungkin saya membenci saudara saya, sementara Kristus yang saya imani adalah Tuhan dan saudara.

 

 

Menjadi Garam dan Terang Di Tengah Himpitan Kegelapan Zaman Modern

sadfafawdaw

Untuk Kelompok Sel Doa St. Cecilia-Kupang

Fr. Yudel Neno, STSM, Sabtu, 16/11/2018

 

 

1. Doa Pembuka

2. Tema Renungan : Terang Dalam Kegelapan

3. Teks : Mat. 5:13-16

4. Kerangka Umum

Isi Pokok Injil Matius :

Mengisahkan tentang hidup dan ajaran-ajaran Yesus. Ajaran itu berupa perintah dan nasehat tentang bagaimana menjadi anggota umat Allah atau pengikut Kristiani yang berdasar pada kehendak Allah bukan kehendak kita sendiri.

Karena itu, tema tentang Menjadi Terang Dalam Kegelapan ditempatkan dalam kerangka perintah dan nasehat Yesus, bahwa sebagai pengikut Kristiani, kita mesti menjadi garam dan terang bagi sesama dan bagi dunia.  Inilah kabar gembiranya bahwa dengan menjadi garam dan terang, kita menyebarkanluaskan kegembiraan bagi sesama dan dunia, dengan pusat kekuatan kita adalah Kristus sendiri.

Teks Mat. 5:13-16, membeberkan wejangan Yesus dan sebagai salah satu bagian khotbah dalam keseluruhan kotbahNya di bukit, yang barangkali di Galilea. Khotbah di bukit ini merupakan khotbah pertama Yesus dari lima khotbah besar yang ada di dalam Injil Matius.

Perikop sebelum ini yakni Mat. 5:3-12, berbicara tentang Sabda Bahagia. Kaitannya dengan perikop kita ini adalah supaya bahagia, kita mesti menjadi garam dan terang dunia.

 

5. Permenungan Teks

Ada beberapa poin yang saya jabarkan untuk merenungkan teks ini :

  • Menjadi Garam

Dalam hidup harian kita, khususnya pengolahan makanan, kita merasakan betapa pentingnya garam. Garam memang  mudah didapatkan; di kios, di pasar, di toko atau kalau sudah dalam kondisi sangat dibutuhkan, cukup ke tetangga rumah atau ke teman kos untuk mendapatkannya. Walaupun demikian, garam seringkali mudah dilupakan; lupa beli, lupa bawa, lupa tabur garam, lupa minta dan berbagai bentuk lupa lainnya. Inilah salah satu fenomen modern yang banyak kali membuat kita untuk melupakan hal kecil namun penting dalam hidup.

Ibu-ibu atau nona-nona seringkali menjadi obyek omelan Bapa, atau Om, karena sayurnya kurang garam atau bahkan tidak ada garam. Kondisi seperti ini mengetengahkan kepada kita betapa pentingnya garam bagi kita.

Garam memiliki dua fungsi yakni memberi cita rasa pada makanan dan mengawetkan makanan. Garam memiliki wujud-wujudnya; ada butiran besar, sedang dan ada yang paling halus. Wujud-wujudnya berbeda secara kasat mata tetapi hakekatnya tetap asin dan fungsinya tetap sama.

Apa maksud Yesus tentang kamu adalah garam dunia? Apakah garam bisa ditawarkan? Jika garam menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan kembali? Di tengah himpitan kegelapan zaman modern, yang banyak kali menawarkan kenikmatan dan semangat memiliki yang tinggi, di tengah berbagai kasus kemanusiaan seperti narkoba, aborsi, seks bebas, pemerkosaan, pembunuhan, kita terpanggil untuk menjadi garam.

Menjadi garam berarti memberi cita rasa pada kehidupan menurut apa yang ada dalam diri kita, sebagaimana garam dengan keasinannya dapat memberi cita rasa pada makanan. Menjadi garam berarti pola pikir, pola kata, pola laku “mengenakkan” orang lain sebagaimana sayur tanpa garam akan menjadi tawar.

Menjadi garam berarti mengawetkan orang lain dengan bahan pengawetnya adalah kesetiaan, tanggung jawab dan komitmen sebagaimana garam karena keasinannya melahirkan tanggung jawab dan komitmen untuk pengawetan tetap terjaga dan tetap stabil. Inilah perintah profetisnya bahwa hanya dengan cita rasa Kristiani, kita dapat mengawetkan hidup kita; menghindari hidup kita dari berbagai tawaran kegelapan yang berujung maut dan dosa.

 

  • Menjadi Terang

Konon ada seorang ayah, yang menguji ketiga puteranya untuk memenuhi sebuah ruang kosong yang gelap dan tertutup dengan segala kekayaan yang mereka miliki. Putera pertama karena ia adalah seorang ahli tumbuhan, ia mengambil sejumlah dedaunan dan dimasukan dalam ruangan itu. Hasilnya tetap ada cela dalam ruangan yang gelap itu. Putera kedua, karena ia adalah seorang arsitek bangunan, ia mengambil seluruh bahan galian C; pasir, batu, sertu untuk memenuhi ruangan itu. Hasilnya tetap ada cela dalam ruangan yang gelap itu. Putera ketiga adalah seorang petani biasa; pergi pagi, pulang sore, penghasilan pas-pasan. Ia membeli sebatang lilin, lalu membakarnya di dalam ruang yang gelap itu. Ia memanggil ayahnya dan mengatakan; tunjukkan kepadaku sisi-sisi gelap dalam ruangan ini.

Kisah ini menenun makna bahwa untuk menjadi terang, tidak butuh seberapa jumlah materi yang kita miliki dan kita gunakan. Si putera ketiga mengingatkan kita akan pentingnya memikirkan dan melakukan solusi tepat sasar dan tepat guna menurut obyek yang hendak kita ubah. Karena ruangan itu gelap, maka solusinya adalah hanya dengan terang, kegelapan dapat sirnah.

Apa maksud Yesus tentang kamu adalah terang dunia? Apakah kita perlu menjadi seperti Lampu gas, senter cas, dan PLN untuk memancarkan terang? Jika demikian, apa yang terjadi kalau baterai habis? Apa yang terjadi kalau habis bahan bakar? Apa yang terjadi kalau ada gangguan?

Yesus memaksudkan menjadi terang berarti menjadi penunjuk jalan, pemandu jalan. Jabatan penunjuk dan pemandu jalan, justru karena sudah lebih dahulu tahu jalan itu. Karena iman, pengetahuan, dan pengalaman kita dipercaya menjadi penunjuk dan pemandu jalan.

Di sini, menjadi terang berarti iman, pengetahuan, pengalaman rohani, perasaan kasih sayang  merupakan pemandu dan penunjuk dalam jalan menuju keselamatan. Kita tahu dan percaya bahwa satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup adalah Yesus sendiri. Karena itu, Yesus memerintahkan supaya hendaklah terangmu bercahaya di depan orang. Ini berarti Yesus menghendaki supaya, kita berjalan mengikutiNya sebagai satu-satuNya jalan, kebenaran dan hidup.

Sebagai konsekuensi langsung dari mengikuti Yesus, menjadi terang berarti berbuat baik. Terang itu adalah perbuatanmu yang baik. Di sini, muncul tuntutan dasariah bahwa sebagai orang beriman, darinya dituntut sikap dan perilaku Kristiani. Karena iman dan perbuatan adalah satu sebagaimana kita beriman dan berperilaku demi memuliakan Allah. Menurut Rasul Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati, iman yang kosong, iman yang tiada faedahnya.  Orang-orang yang beriman, ia menghasilkan perbuatan baik dari perbendaharaan imannya.

Sebagai makhluk ciptaan yang unik dan istimewa, dengan memuliakan Bapa, kita membuahkan terang. Segala perbuatan baik yang kita lakukan adalah butir-butir ajaib untuk menghadirkan Allah dalam hidup bersama. Karena telah ditandaskan bahwa mengabdi manusia berarti memuliakan Allah. Mengasihi manusia berarti mengasihi Allah karena Allah adalah kasih.

 

  • Perintah untuk menjadi Garam dan Terang adalah amanat untuk bersaksi

Sebagai pengikut Kristiani, kita terpanggil untuk bersaksi tentang karya keselamatanNya. Kesaksian hidup kita adalah bentuk pewartaan yang paling inti dan paling berharga. Garam dan terang dipakai Yesus untuk membahasakan peranan kita sebagai pengikut Kristiani. Ini tidak berarti dengan membeli garam yang sebanyak-banyaknya atau ada yang menampung air laut sebanyak-banyaknya, atau dengan membeli benda penerangan yang begitu mahalnya, lalu dengan itu kita sudah menjadi saksi. Tentu tidaklah demikian.

Karena amanat Yesus adalah amanat saksi, maka penting bagi kita untuk menanggapi amanat Yesus ini dengan memantapkan iman, mewartakan pengharapan akan Allah dan menghayati kasih sebagai tolok ukur sepanjang zaman dan seluas relasi.

Kita menjadi saksi dengan menggunakan pola pikir Kristus sendiri, dengan mengandalkan pengalaman rohani bersama Kristus, dengan merenungkan kasih Kristus yang begitu besar hingga wafat di Salib dan dengan menghayati perintah Yesus tentang bagaimana seharusnya manusia saling memperlakukan bukan sebagai musuh melainkan sebagai rekan yang harus dicintai dan dikasihi. Mengapa demikian? Karena nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap namun kasih tidak akan berkesudahan.

Bersaksi tanpa kasih, mewartakan tanpa kasih, ibarat garam tanpa asin, lampu atau lilin tanpa terang, sementara tidak ada garam yang tidak asin dan tidak ada lampu yang tidak memancarkan cahaya. Bersaksi tanpa kasih, kesaksian kita akan menjadi palsu sebagaimana kesaksian-kesaksian dalam kasus-kasus pidana.

Paus Benediktus XVI mengatakan kalau kita mengasihi sesama berarti kita berinisiatif melakukan sesuatu yang baik untuknya. Di sini, panggilan untuk menjadi garam; menjadi terang, merupakan panggilan untuk mengasihi sesama dengan membaktikan segala potensi kita, pengalaman kita demi mencapai kebaikan bersama.

Selamat Bermenung….berlomba-lombalah menjadi garam dan terang dunia, karena hanya atas cara itu, kasih memancar tidak henti-hentinya. Dengan menjadi garam dan terang, kita menceritakan kemuliaan Allah, kita menyampaikan berita dan pengetuan tentang Allah dan kita semakin membuktikan bahwa Allah itu ada dalam hidup kita.

 

6. Pertanyaan refleksi

  • Sudahkan kita menjadi garam dan terang bagi sesama?
  • Dengan cara apakah kita menjadi garam dan terang bagi sesama?